Jakarta, jentik.id — Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (22/9/2026). Rupiah turun 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.879 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.847 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan investor memilih menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berlangsung pada Rabu (23/9).
Menurut Rully, pasar memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan. Pelaku pasar juga mencermati kebijakan bank sentral di sejumlah negara yang mulai menaikkan suku bunga.
“Pelemahan rupiah dipengaruhi sikap wait and see pelaku pasar terkait keputusan RDG BI besok,” kata Rully di Jakarta, Selasa.
Rully menilai BI memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa harus mengubah suku bunga. Instrumen itu mencakup lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), swap point, serta intervensi di pasar obligasi.
Menurut Rully, berbagai kebijakan tersebut masih membantu BI menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dari pasar global, investor juga mencermati kebijakan suku bunga sejumlah bank sentral. The Fed, Bank of Japan (BoJ), dan Bank Sentral Eropa (ECB) masing-masing menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September 2026.
Selain suku bunga, investor turut mencermati pergerakan harga minyak. Harga minyak masih berada di atas asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap defisit anggaran dan neraca perdagangan.
Namun, harga minyak turun lebih dari 2 persen pada Senin (21/9). Pasar merespons harapan perundingan Amerika Serikat dan Iran kembali berjalan serta ekspor minyak mentah Arab Saudi pulih.
Harga minyak Brent untuk pengiriman November tercatat sekitar 101,68 dolar AS per barel, turun 2,12 persen dari penutupan sebelumnya sebesar 103,87 dolar AS.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 2,32 persen menjadi 93,85 dolar AS per barel dari 96,08 dolar AS.
Dengan mencermati berbagai sentimen tersebut, Rully memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS dalam waktu dekat. (nr*)









