Iran, jentik.id – Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer ke Pulau Qeshm, Iran, pada Senin (2/11/2026). Operasi tersebut berlangsung tanpa pengumuman terbuka di tengah upaya Washington dan Teheran mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan.
Mengutip laporan The Wall Street Journal (WSJ) melalui AFP, Selasa (3/11/2026), serangan tersebut menjadi bagian dari sejumlah operasi militer terbatas yang AS lakukan terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir.
WSJ mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan identitasnya. Mereka menyebut Washington menjalankan serangan sebagai langkah defensif untuk mencegah Iran menyerang kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Pulau Qeshm memiliki posisi strategis karena menjadi pulau terbesar di Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
AS Berulang Kali Serang Fasilitas Militer Iran
Serangan terbaru ini menambah daftar operasi militer AS di Pulau Qeshm dan wilayah sekitarnya.
Pada 6 Juni, militer AS menyerang fasilitas radar dan pengawasan pantai di Qeshm serta Goruk. Selanjutnya, serangan kembali terjadi pada 14 Juli.
Dua hari kemudian, operasi militer menyasar Desa Masan. Pada 30 Juli, serangan kembali menghantam kawasan permukiman.
AS kemudian melancarkan operasi pada 1 September dengan menyasar sejumlah fasilitas militer Iran. Targetnya meliputi sistem pertahanan udara, radar, aset maritim, fasilitas peletakan ranjau laut, serta infrastruktur komunikasi milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Lima Ledakan Terdengar di Pulau Qeshm
Media pemerintah Iran, IRNA, melaporkan lima ledakan terdengar secara beruntun di Pulau Qeshm. Sejumlah warga juga mengaku melihat dua pesawat melintas di wilayah udara pulau tersebut.
Menanggapi laporan itu, Pentagon mengarahkan pertanyaan kepada Komando Pusat AS (CENTCOM). Namun, hingga Senin malam, CENTCOM belum memberikan keterangan resmi kepada AFP.
WSJ menyebut Washington sengaja tidak mengumumkan operasi tersebut secara terbuka. Langkah itu bertujuan menghindari kesan bahwa AS ingin kembali memulai perang dalam skala besar.
Trump Sebut Kesepakatan dengan Iran Masih Mungkin
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, Presiden AS Donald Trump menyatakan peluang mencapai kesepakatan dengan Iran masih terbuka.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut pada Senin (2/11/2026), menjelang pemilihan sela atau midterm elections Amerika Serikat yang berlangsung Selasa (3/11/2026).
Pernyataan Trump menunjukkan bahwa Washington masih membuka jalur diplomasi meskipun kedua negara menghadapi ketegangan militer yang belum mereda.
Serangan terbaru di Pulau Qeshm pun menambah tekanan terhadap hubungan AS dan Iran. Situasi di kawasan Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan minyak internasional. (nr*)









