Kabut Asap Makin Meluas, NASA Ungkap Citra Karhutla Indonesia-Malaysia

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 4 September 2026 - 17:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Citra satelit Aqua MODIS menunjukkan kabut asap dan hotspot di Indonesia-Malaysia, 1 September 2026. Foto: Dok NASA Earth

Citra satelit Aqua MODIS menunjukkan kabut asap dan hotspot di Indonesia-Malaysia, 1 September 2026. Foto: Dok NASA Earth

JAKARTA, jentik.id – NASA Earth Observatory merilis citra satelit Aqua MODIS yang memperlihatkan kabut asap dan titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia dan Malaysia.

Citra tersebut merekam kondisi pada 1 September 2026. Instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) pada satelit Aqua menemukan sejumlah anomali termal yang menunjukkan aktivitas kebakaran. NASA menandai titik tersebut dengan warna merah pada citra.

NASA Earth mengunggah citra itu pada Kamis (3/9/2026) waktu setempat.

Kekeringan Picu Risiko Kebakaran

NASA menyebut Indonesia tengah menghadapi kondisi kekeringan yang parah dan meluas. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran, termasuk di kawasan lahan gambut tropis.

Api pada lahan gambut dapat membakar permukaan sekaligus merambat ke lapisan bawah tanah. Kondisi ini membuat petugas lebih sulit memadamkan kebakaran.

Pembakaran gambut juga menghasilkan polutan dalam jumlah besar. Asapnya dapat membawa partikel halus, sulfur dioksida, serta gas rumah kaca yang berdampak pada kualitas udara dan lingkungan.

Baca Juga :  Ketua Umum PWI Pusat Ahmad Munir Kecam Penahanan Tiga Wartawan dan Relawan RI Dalam Misi Kemanusiaan Ke Gaza

NASA mengaitkan kondisi kekeringan dengan pengaruh El Niño yang kembali menguat. Situasi tersebut mengingatkan pada kondisi yang terjadi saat musim kebakaran besar pada 2015.

Api Gambut Sulit Padam

Peneliti Columbia University, Robert Field, menjelaskan bahwa kebakaran bawah tanah pada lahan gambut menjadi persoalan yang lebih serius.

“Ketika api sudah masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti. Api akan terus membara sampai hujan datang pada Oktober atau November,” kata Field.

Menurutnya, kebakaran di permukaan relatif lebih mudah ditangani. Namun, api yang masuk ke lapisan gambut dapat terus membara dalam waktu lama.

Aktivitas Kebakaran Mulai Meningkat

NASA mencatat aktivitas kebakaran meningkat tajam meski musim kebakaran baru berjalan sekitar satu bulan.

Baca Juga :  Biaya Perang AS-Iran Tembus Rp671,8 Triliun, Menhan Pete Hegseth Minta Tambahan Dana

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan memanfaatkan data MODIS dan VIIRS dari NASA-NOAA untuk memantau titik panas secara hampir real-time.

Pemerintah menggunakan aplikasi SiPongi untuk membantu pemantauan tersebut. Data satelit memberikan informasi mengenai lokasi hotspot sehingga petugas dapat melakukan pemantauan dan penanganan lebih cepat.

Peneliti University of Maryland, Shi Jun Wee, menilai kondisi tahun ini akan menguji berbagai langkah pencegahan yang pemerintah terapkan setelah pengalaman kebakaran besar pada 2015.

“Tahun ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi langkah-langkah yang sudah diterapkan setelah kejadian 2015,” ujar Shi Jun Wee.

Citra Aqua MODIS tersebut memberikan gambaran mengenai luasnya sebaran kabut asap dan aktivitas kebakaran di kawasan Indonesia-Malaysia. Kondisi cuaca, kekeringan, dan aktivitas kebakaran menjadi faktor penting yang perlu terus pemerintah pantau selama musim kemarau. (nr*)

Berita Terkait

Dua Penembakan Guncang Afrika Selatan, 27 Orang Tewas
AI Keliru Beri Intelijen, AS Nyaris Intersepsi Kapal China
Banjir Bandang Nepal dan Tibet Tewaskan 1.130 Orang, Hampir 4.500 Masih Hilang
Banjir Bandang Nepal-China Tewaskan Ratusan Orang, Lebih dari 1.400 Hilang
Keributan Final Piala Dunia Berujung Sanksi! Argentina Dijatuhi Skorsing 21 Laga
Waspada! Apple Deteksi Ancaman Spyware, Pengguna di 110 Negara Dapat Peringatan
Lama Menghilang, Mojtaba Khamenei Segera Muncul di Publik Iran
Iran Tetapkan Syarat untuk Buka Selat Hormuz, Minta Ganti Rugi Perang dari AS
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 21:41 WIB

Dua Penembakan Guncang Afrika Selatan, 27 Orang Tewas

Senin, 21 September 2026 - 15:21 WIB

AI Keliru Beri Intelijen, AS Nyaris Intersepsi Kapal China

Jumat, 4 September 2026 - 17:45 WIB

Kabut Asap Makin Meluas, NASA Ungkap Citra Karhutla Indonesia-Malaysia

Rabu, 2 September 2026 - 15:01 WIB

Banjir Bandang Nepal dan Tibet Tewaskan 1.130 Orang, Hampir 4.500 Masih Hilang

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 07:33 WIB

Banjir Bandang Nepal-China Tewaskan Ratusan Orang, Lebih dari 1.400 Hilang

Berita Terbaru