Iran Tetapkan Syarat untuk Buka Selat Hormuz, Minta Ganti Rugi Perang dari AS

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kolase foto Iran dan Selat Hormuz

Kolase foto Iran dan Selat Hormuz

Iran, jentik.id-Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah rudal Iran menghantam kapal tanker milik Uni Emirat Arab (UEA) di Selat Hormuz pada Sabtu (8/8/2026).

Pemerintah UEA mengonfirmasi serangan tersebut. Kapal tanker itu dioperasikan oleh perusahaan minyak milik negara UEA, ADNOC.

UEA mengecam serangan tersebut dan menilai Iran melakukan tindakan berbahaya di perairan internasional.

Iran memiliki pandangan berbeda. Teheran menegaskan kapal yang melintas di Selat Hormuz harus mengikuti instruksi mereka dan menjauhi rute yang Iran anggap ilegal.

Iran Ajukan Syarat kepada AS

Setelah insiden tersebut, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran kembali menegaskan sejumlah tuntutan kepada Amerika Serikat.

Iran menyatakan akan mempertahankan pembatasan pelayaran sampai Washington memenuhi tuntutan tersebut.

Sekretaris Dewan Keamanan Iran Mohammad Baqer Zolqadr mengatakan AS harus mengubah kebijakannya terhadap Iran.

Iran meminta AS menghentikan ancaman dan membatalkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Teheran juga menuntut Washington menarik pasukan serta pangkalan militernya dari wilayah sekitar Iran.

Baca Juga :  Saat Dunia Krisis, Pakistan Selamat Berkat Ledakan Panel Surya

Selain itu, Iran meminta AS mencabut sanksi ekonomi dan mencairkan aset negara Iran yang masih dibekukan.

Teheran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang serta penghentian operasi militer terhadap Iran dan kelompok sekutunya di Irak, Lebanon, Palestina, dan Yaman.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas

Selat Hormuz memiliki posisi strategis bagi perdagangan energi dunia. Jalur tersebut menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan LNG melalui laut.

Karena itu, gangguan di Selat Hormuz dapat memengaruhi perdagangan energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Iran sebelumnya sempat memberi sinyal adanya perkembangan pembicaraan dengan Oman mengenai pengelolaan koridor pelayaran. Namun, komunikasi langsung antara Teheran dan Washington kini menghadapi jalan buntu.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya membatalkan rencana serangan udara baru untuk memberi kesempatan kepada jalur diplomasi.

Namun, sejumlah laporan media AS menyebut Pentagon menghadapi tekanan terkait persediaan rudal presisi.

Baca Juga :  Tak Jadi Kurban, Kerbau Viral “Donald Trump” Dipindah ke Kebun Binatang Nasional

Laksamana Brad Cooper, Komandan Komando Sentral AS (CENTCOM), disebut telah memberi informasi kepada Trump mengenai kondisi persenjataan Amerika.

Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membantah laporan mengenai kekurangan amunisi tersebut.

Ketegangan Meluas di Timur Tengah

Situasi kawasan juga terus memanas. Israel kembali melakukan serangan udara ke Lebanon dengan alasan Hizbullah melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Di Laut Merah, kelompok Houthi di Yaman juga meningkatkan serangan terhadap pasukan pemerintah yang mendapat dukungan Arab Saudi serta kapal tanker milik Riyadh.

Ketegangan tersebut turut memengaruhi opini publik Amerika Serikat.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan 50 persen responden AS menilai aksi militer Washington terhadap Iran justru dapat memperburuk ketidakstabilan di Timur Tengah. Hanya 17 persen responden yang menilai kondisi kawasan akan membaik.

Dengan meningkatnya ketegangan di beberapa titik strategis, Selat Hormuz kini kembali menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian dunia. (nr*)

Berita Terkait

Lama Menghilang, Mojtaba Khamenei Segera Muncul di Publik Iran
Indonesia Serukan Aksi Nyata! Ajukan 5 Langkah Lindungi Al Aqsa dan Dukung Palestina
Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Jepang, Puluhan Orang Terluka dan WNI Diminta Waspada
Jelang Pidato Presiden Filipina, Polisi Temukan Bom Rakitan dan Tingkatkan Pengamanan
Kebakaran Hutan Meluas, Spanyol Tetapkan Darurat Nasional, Ribuan Warga Dievakuasi
Penyebab Kematian Pangeran Arab Saudi di Hotel Mewah London Terungkap, Pengadilan Inggris Buka Fakta Baru
Biaya Perang AS-Iran Tembus Rp671,8 Triliun, Menhan Pete Hegseth Minta Tambahan Dana
Dua WNI Disekap di Myanmar, Kemlu Bergerak Cepat Lacak Lokasi dan Siapkan Penyelamatan
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:38 WIB

Lama Menghilang, Mojtaba Khamenei Segera Muncul di Publik Iran

Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:49 WIB

Iran Tetapkan Syarat untuk Buka Selat Hormuz, Minta Ganti Rugi Perang dari AS

Jumat, 7 Agustus 2026 - 10:36 WIB

Indonesia Serukan Aksi Nyata! Ajukan 5 Langkah Lindungi Al Aqsa dan Dukung Palestina

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:40 WIB

Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Jepang, Puluhan Orang Terluka dan WNI Diminta Waspada

Selasa, 28 Juli 2026 - 07:12 WIB

Jelang Pidato Presiden Filipina, Polisi Temukan Bom Rakitan dan Tingkatkan Pengamanan

Berita Terbaru

Foto: dok Istimewa

Nasional

21 Penyakit dan Layanan yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Selasa, 11 Agu 2026 - 13:12 WIB

Foto: Pedagang ikan (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Kesehatan

Waspada Ikan Berformalin, Kenali Ciri-Cirinya Sebelum Membeli

Selasa, 11 Agu 2026 - 11:54 WIB

Foto: Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menghadiri rapat umum di Teheran, Iran, 31 Mei 2019. (via REUTERS/Hamid Forootan)

Internasional

Lama Menghilang, Mojtaba Khamenei Segera Muncul di Publik Iran

Selasa, 11 Agu 2026 - 10:38 WIB