Jambi, jentik.id-Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Jambi mengancam produksi tanaman padi. Hingga akhir Agustus 2026, sedikitnya 53 hektare (ha) lahan sawah dilaporkan mengalami gagal panen atau puso.
Kabupaten Batang Hari menjadi daerah dengan dampak puso terbesar dibandingkan wilayah lainnya di Provinsi Jambi. Kondisi tersebut dipicu kemarau yang diperparah fenomena El Nino.
Kepala UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Jambi, Darmawansyah, mengatakan lahan yang terancam puso tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
“Yang terbesar berada di Kabupaten Batang Hari, tepatnya di Kecamatan Bathin XXIV, seluas 11,5 hektare,” kata Darmawansyah kepada wartawan.
Berdasarkan laporan Dinas TPHP Provinsi Jambi hingga akhir Agustus 2026, dari total 7.659,73 ha tanaman padi sawah pada periode tanam tersebut, sebanyak 1.851,18 ha mengalami kerusakan ringan, 1.313,18 ha rusak sedang, 559,47 ha rusak berat, dan 53 ha dinyatakan puso.
Batang Hari tercatat sebagai daerah dengan luas tanaman puso terbesar. Dari total luas tanam 3.039,30 ha, sebanyak 418,50 ha mengalami kerusakan ringan, 679,90 ha rusak sedang, 99,40 ha rusak berat, dan 23,25 ha mengalami puso.
Dampak kekeringan juga terjadi di Kabupaten Tebo. Dari luas tanam 458,75 ha, tercatat 167,75 ha rusak ringan, 115,50 ha rusak sedang, 57,50 ha rusak berat, dan 16,75 ha mengalami puso.
Di Kabupaten Muaro Jambi, dari total 1.375,27 ha luas tanam, sebanyak 518,30 ha mengalami rusak ringan, 154,50 ha rusak sedang, 317,54 ha rusak berat, dan 10 ha mengalami puso.
Sementara itu, Kabupaten Sarolangun dengan luas tanam 986,75 ha mengalami kerusakan pada 274,75 ha tanaman secara ringan, 195,75 ha rusak sedang, 70 ha rusak berat, dan 1 ha mengalami puso.
Untuk Kota Jambi, dari total 141,25 ha luas tanam, sebanyak 75,36 ha mengalami rusak ringan, 18,53 ha rusak sedang, 4 ha rusak berat, dan 2 ha mengalami puso.
Kerusakan juga tercatat di Kota Sungai Penuh. Dari total 464 ha luas tanam, sebanyak 60 ha mengalami rusak ringan dan 2 ha rusak sedang.
Di Kabupaten Kerinci, dari total 533,50 ha luas tanam, tercatat 70,50 ha mengalami rusak ringan dan 24 ha rusak sedang.
Sedangkan Kabupaten Tanjung Jabung Barat mencatat 30 ha rusak ringan, 51 ha rusak sedang, dan 11 ha rusak berat dari total 92 ha luas tanam.
Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dari total 49,50 ha luas tanam, baru 6 ha yang dilaporkan mengalami kerusakan ringan dan belum terdapat laporan tanaman yang mengalami kerusakan sedang, berat maupun puso.
Adapun Kabupaten Merangin memiliki luas tanam 528,44 ha, dengan 230,02 ha mengalami kerusakan ringan dan 72 ha rusak sedang.
Mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, Dinas TPHP Provinsi Jambi menyiapkan sejumlah langkah penanganan, salah satunya melalui pompanisasi untuk membantu memasok air ke lahan pertanian yang masih memungkinkan diselamatkan.
Darmawansyah mengatakan pompanisasi menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mempertahankan tanaman padi yang terdampak kekeringan.
“Melalui Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian sudah berupaya melakukan penanganan,” katanya.
Namun, langkah tersebut tidak dapat diterapkan pada seluruh lahan terdampak. Pada wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem, pompanisasi sulit dilakukan karena sumber air yang tersedia tidak mencukupi.
“Untuk daerah yang mengalami kekeringan ekstrem, pemerintah tidak bisa mengambil langkah tersebut karena terkendala pasokan air,” ujar Darmawansyah.
Dinas TPHP Provinsi Jambi kini terus memantau perkembangan kondisi tanaman padi di sejumlah daerah. Data kerusakan tersebut telah dilaporkan kepada Kepala Dinas TPHP Provinsi Jambi sebagai bahan menentukan langkah penanganan berikutnya.(asy*)









