Janji Jangan Tinggal Janji: Kerinci dan Sungai Penuh Menunggu Bukti dari Al Haris

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 24 Mei 2026 - 11:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim Tenaga Ahli Gubernur Diskusi Rabuan Roadshow (DRR) di Kota Sungai Penuh. Kamis, (21/5).

Tim Tenaga Ahli Gubernur Diskusi Rabuan Roadshow (DRR) di Kota Sungai Penuh. Kamis, (21/5).

Sungai Penuh–Orang Kerinci  sebenarnya tidak banyak menuntut.

Masyarakat hanya ingin jalan bagus, sampah tidak menumpuk, harga hasil tani stabil, anak muda punya pekerjaan, wisata berkembang, dan pemerintah hadir bukan hanya saat kampanye.

Itu saja.

Sayangnya, sampai hari ini sebagian harapan itu masih terdengar seperti pidato yang terus berulang.

Kini Al Haris memasuki periode kedua sebagai Gubernur Jambi. Namun masyarakat di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci belum merasakan sepenuhnya berbagai janji pembangunan di wilayah barat Jambi.

Padahal dua daerah ini memiliki peran besar bagi Jambi.

Kerinci menjadi paru-paru Jambi, gudang kayu manis, penghasil teh, sentra hortikultura, sekaligus surga wisata alam. Sementara Sungai Penuh tumbuh sebagai pusat  perdagangan dan pergerakan ekonomi masyarakat dataran tinggi.

Namun banyak warga merasa pemerintah provinsi belum memberi perhatian maksimal.

Wilayah ini terasa jauh dari pusat kekuasaan.

Kadang juga terasa jauh dari prioritas pembangunan.

Persoalan sampah masih menjadi keluhan terbesar masyarakat.

Pemerintah sudah lama membahas pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) regional modern. Wacana itu terus muncul dalam forum resmi dan janji politik.

Namun kondisi di lapangan belum berubah banyak.

Sampah masih menumpuk.

Bau menyengat terus muncul.

Sektor pariwisata pun ikut menerima dampaknya.

Bagi daerah yang mengandalkan keindahan alam, persoalan sampah bukan sekadar urusan kebersihan. Masalah ini mengganggu kesehatan masyarakat sekaligus merusak citra wisata.

Selain sampah, warga terus menunggu perbaikan jalan provinsi.

Banyak ruas penghubung desa, sentra pertanian, dan akses wisata masih rusak. Pemerintah juga belum memberi kepastian penuh terhadap pembangunan Jalan Renah Pemetik yang dulu sering muncul dalam janji politik.

Padahal jalan di Kerinci bukan sekadar aspal.

Baca Juga :  Sempat Lumpuh! Jalur Kerinci–Bangko Kembali Dibuka, Pembersihan Longsor Masih Berlanjut

Jalan menentukan denyut ekonomi petani.

Saat jalan rusak, biaya angkut naik, harga jual turun, lalu petani menanggung kerugian paling besar.

Di tengah kondisi itu, Pemerintah Provinsi Jambi kembali menggelar Diskusi Rabuan Roadshow (DRR) di Aula Kantor Wali Kota Sungai Penuh, Kamis (21/5).

Forum itu melahirkan banyak gagasan dan usulan strategis.

Peserta membahas pembangunan fly over, jalan tembus Sungai Penuh–Tapan, Kerinci–Bungo, pengembangan Geopark Kerinci, kampus UNJA, penguatan adat, hingga pengelolaan sampah modern.

Semua gagasan terdengar besar.

Semua rencana tampak menjanjikan.

Namun masyarakat sekarang tidak hanya ingin mendengar diskusi.

Masyarakat menunggu pekerjaan nyata.

Apalagi pemerintah sudah berkali-kali menggelar forum serupa. Sebagian besar aspirasi yang muncul pun bukan persoalan baru.

Masalah konektivitas menjadi contoh paling jelas.

Selama bertahun-tahun masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh mengeluhkan mahalnya biaya logistik akibat keterbatasan akses jalan. Jarak menuju Kota Jambi terlalu panjang, biaya distribusi hasil tani meningkat, dan wisatawan pun berpikir dua kali sebelum datang.

Karena itu masyarakat terus mendorong pembangunan jalan tembus, fly over, dan terowongan.

Mereka ingin wilayahnya keluar dari kesan terisolasi.

Wakil Wali Kota Sungai Penuh Azhar Hamzah bahkan meminta langsung dukungan Pemprov Jambi untuk mengkaji pembangunan jalan layang dan jalan tembus strategis.

Pesannya sederhana.

Jika konektivitas membaik, ekonomi daerah ikut bergerak.

Kalangan pemuda juga menyampaikan dorongan serupa.

Pemuda Pelopor Kota Sungai Penuh, Giffari Halika, mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan pembangunan Jalan Renah Pemetik dan peningkatan akses wilayah.

Anak muda mulai lelah mendengar kalimat “akan diperjuangkan”.

Mereka ingin melihat alat berat bekerja.

Mereka tidak ingin proposal hanya berpindah dari satu meja ke meja lain.

Baca Juga :  Fly Over Jambi–Sumbar Diusulkan, Perjalanan dari Sungai Penuh Bisa Jauh Lebih Singkat

Kalangan akademisi dalam forum DRR juga mengingatkan pentingnya hilirisasi ekonomi daerah.

Selama ini Kerinci terlalu lama menjual hasil alam dalam bentuk mentah.

Petani menjual kayu manis tanpa pengolahan.

Masyarakat mengirim kopi dalam bentuk mentah.

Teh keluar daerah tanpa nilai tambah.

Padahal petani sudah bekerja keras setiap hari.

Sayangnya, daerah lain justru menikmati keuntungan lebih besar.

Karena itu pembangunan tidak cukup hanya membangun jalan. Pemerintah juga harus menghadirkan industri pengolahan, memperkuat distribusi, dan membuka investasi lokal agar ekonomi masyarakat naik kelas.

Selain ekonomi, masyarakat juga menyoroti pendidikan dan lapangan kerja.

Banyak anak muda Kerinci memilih merantau karena daerah belum menyediakan peluang kerja yang cukup. Dalam forum itu, peserta kembali memunculkan wacana menghadirkan kampus Universitas Jambi di Kerinci.

Harapannya sederhana.

Anak daerah bisa memperoleh pendidikan tinggi berkualitas tanpa harus pergi jauh.

Namun masyarakat berharap pemerintah tidak lagi menjadikan wacana itu sekadar bahan seminar tahunan.

Kerinci dan Sungai Penuh sebenarnya memiliki hampir semua modal untuk maju.

Alamnya indah.

Budayanya kuat.

Pertaniannya besar.

Pariwisatanya lengkap.

Masyarakatnya juga pekerja keras.

Daerah ini hanya membutuhkan keberanian untuk mempercepat pembangunan.

Sebab rakyat tidak hidup dari forum diskusi.

Masyarakat membutuhkan hasil nyata.

Hingga hari ini warga masih menunggu pemerintah membangun TPA regional, menyelesaikan Jalan Renah Pemetik, memulai jalan tembus, mengembangkan wisata secara serius, dan membuka peluang kerja lebih luas bagi generasi muda.

Mereka juga menunggu satu hal paling penting: pemerintah membuktikan janji politik lewat pekerjaan nyata.

Kerinci dan Sungai Penuh memang jauh dari ibu kota provinsi.

Namun jarak bukan alasan untuk membiarkan daerah ini terus tertinggal. (Mardizal)

Berita Terkait

Takut Kehabisan Solar Saat Hari Kerja, Sopir Truk di Padang Rela Antre Sejak Minggu Pagi
Jambi Dihantam Cuaca Buruk, Sumatera Terseret Blackout Listrik Skala Besar
Pemkab Tanjab Barat Pasang Barcode di Kotak Amal untuk Cegah Penyalahgunaan
Sumatra Gelap Gulita, PLN Beberkan Penyebab Blackout Massal
Fly Over Jambi–Sumbar Diusulkan, Perjalanan dari Sungai Penuh Bisa Jauh Lebih Singkat
Harimau Sumatera Serang Petani di Gayo Lues, Korban Selamat dan Jalani Perawatan
Banjir Besar Terjang Bungo! Sungai Batang Bungo Meluap, Permukiman Warga Terendam
128 Jamaah Haji Sungai Penuh Dilepas di Jambi, Wawako Azhar Hamzah Sambut Jamaah di Asrama Haji
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:02 WIB

Takut Kehabisan Solar Saat Hari Kerja, Sopir Truk di Padang Rela Antre Sejak Minggu Pagi

Sabtu, 23 Mei 2026 - 12:27 WIB

Jambi Dihantam Cuaca Buruk, Sumatera Terseret Blackout Listrik Skala Besar

Sabtu, 23 Mei 2026 - 07:17 WIB

Pemkab Tanjab Barat Pasang Barcode di Kotak Amal untuk Cegah Penyalahgunaan

Sabtu, 23 Mei 2026 - 02:36 WIB

Sumatra Gelap Gulita, PLN Beberkan Penyebab Blackout Massal

Jumat, 22 Mei 2026 - 20:00 WIB

Fly Over Jambi–Sumbar Diusulkan, Perjalanan dari Sungai Penuh Bisa Jauh Lebih Singkat

Berita Terbaru