100 Hari Perang AS-Israel dengan Iran, Dampaknya Menjalar ke Ekonomi Global dan Asia Tenggara

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Memasuki hari ke-100 konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dampak perang tidak lagi terbatas pada kawasan Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur energi dunia, khususnya di Selat Hormuz, kini dirasakan oleh berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara, melalui lonjakan biaya energi, kenaikan harga bahan baku, hingga terganggunya rantai pasok global.

Memasuki hari ke-100 konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dampak perang tidak lagi terbatas pada kawasan Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur energi dunia, khususnya di Selat Hormuz, kini dirasakan oleh berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara, melalui lonjakan biaya energi, kenaikan harga bahan baku, hingga terganggunya rantai pasok global.

Jakarta, jentik.id – Memasuki hari ke-100 konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dampak perang tidak lagi terbatas pada kawasan Timur Tengah.

Gangguan terhadap jalur energi dunia, khususnya di Selat Hormuz, kini dirasakan oleh berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara, melalui lonjakan biaya energi, kenaikan harga bahan baku, hingga terganggunya rantai pasok global.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melintasi kawasan tersebut setiap hari.

Namun, sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, aktivitas pelayaran di jalur tersebut mengalami gangguan serius sehingga memicu gejolak harga energi internasional.

Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan telah menyebabkan penurunan signifikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, mengakibatkan biaya pengiriman meningkat dan pasokan energi menjadi tidak menentu.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap sektor industri yang bergantung pada bahan baku berbasis minyak bumi.

Baca Juga :  Trump Sebut AS Kebal Krisis Minyak, Tak Bergantung pada Selat Hormuz

Di kawasan Asia Tenggara, dampaknya mulai dirasakan oleh sektor konstruksi, manufaktur, hingga usaha mikro dan menengah. Kenaikan harga bahan bakar serta material konstruksi berbasis minyak, seperti bitumen untuk pembangunan jalan dan trotoar, menambah beban biaya produksi dan pelaksanaan proyek infrastruktur.

Pelaku industri mengeluhkan tingginya volatilitas harga yang membuat penyusunan anggaran menjadi semakin sulit.

Para pemasok disebut kerap melakukan penyesuaian harga dalam waktu singkat, sementara kontraktor telah terikat dalam kontrak dengan nilai yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Persoalan utama saat ini bukan kekurangan pasokan, melainkan ketidakpastian harga yang terus berubah dalam waktu singkat,” ungkap sejumlah pelaku industri yang terdampak.

Selain sektor konstruksi, gejolak harga juga merambah industri makanan dan minuman. Berbagai produk yang menggunakan kemasan plastik, pupuk, bahan kimia, hingga helium untuk kebutuhan industri dan hiburan mengalami tekanan biaya akibat naiknya harga energi dan terganggunya distribusi global.

Baca Juga :  Efek Konflik AS-Iran! Harga Minyak Tembus USD 100, Pasar Panik

Para ekonom menilai dampak konflik ini berpotensi menjadi guncangan struktural jangka panjang bagi perekonomian kawasan.

Kenaikan biaya logistik dan produksi diperkirakan masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan, bahkan jika ketegangan militer mulai mereda.

Hal tersebut disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan rantai pasok internasional yang telah terganggu selama berbulan-bulan

Sementara itu, upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik terus dilakukan.

Sejumlah laporan menyebutkan adanya peluang tercapainya kesepakatan damai yang dapat membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dan menstabilkan pasar energi global.

Namun hingga kini, ketegangan militer dan insiden keamanan di kawasan masih terus terjadi sehingga ketidakpastian tetap membayangi pasar dunia.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia, dihadapkan pada tantangan kenaikan biaya hidup dan produksi.

Dampak perang yang berlangsung ribuan kilometer dari Asia Tenggara kini telah menjalar ke berbagai sektor ekonomi, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga kebutuhan sehari-hari masyarakat.(asy*)

Berita Terkait

Aliansi Baru Tatanan Geopolitik Timur Tengah, Isu Kesepakatan UEA dan Israel Jadi Sorotan
Pembenahan Partai Politik Dinilai Mendesak, Kunci Perkuat Demokrasi Indonesia
DKPP Gelar Lomba Video Kreatif dan Jurnalistik, Dorong Pemahaman Kode Etik Pemilu Lebih Membumi
FKD-PPDOB Dan DPRD Jabar Serahkan Aspirasi Pencabutan Moratorium ke DPD RI Bukan Sekadar Janji Politik
Prabowo Wujudkan Komitmen di Hadapan Ribuan Buruh, Bentuk Satgas Mitigasi PHK
Muscab PDI Perjuangan Kota Sungai Penuh Perkuat Solidaritas Bersama Akar Rumput
Posisi Ketua DPW Dan DPP PAN Pejabat Penting Di Daerah  Target Tembus Tiga Besar Nasional
Said Igbal Sampaikan 11 Aspirasi Buruh Di Hadapan Presiden Prabowo pada May Day 2026
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:48 WIB

100 Hari Perang AS-Israel dengan Iran, Dampaknya Menjalar ke Ekonomi Global dan Asia Tenggara

Minggu, 24 Mei 2026 - 04:08 WIB

Aliansi Baru Tatanan Geopolitik Timur Tengah, Isu Kesepakatan UEA dan Israel Jadi Sorotan

Rabu, 6 Mei 2026 - 13:10 WIB

Pembenahan Partai Politik Dinilai Mendesak, Kunci Perkuat Demokrasi Indonesia

Senin, 4 Mei 2026 - 21:28 WIB

DKPP Gelar Lomba Video Kreatif dan Jurnalistik, Dorong Pemahaman Kode Etik Pemilu Lebih Membumi

Senin, 4 Mei 2026 - 09:06 WIB

FKD-PPDOB Dan DPRD Jabar Serahkan Aspirasi Pencabutan Moratorium ke DPD RI Bukan Sekadar Janji Politik

Berita Terbaru