Jakarta, jentik.id – Memasuki hari ke-100 konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dampak perang tidak lagi terbatas pada kawasan Timur Tengah.
Gangguan terhadap jalur energi dunia, khususnya di Selat Hormuz, kini dirasakan oleh berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara, melalui lonjakan biaya energi, kenaikan harga bahan baku, hingga terganggunya rantai pasok global.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melintasi kawasan tersebut setiap hari.
Namun, sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, aktivitas pelayaran di jalur tersebut mengalami gangguan serius sehingga memicu gejolak harga energi internasional.
Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan telah menyebabkan penurunan signifikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, mengakibatkan biaya pengiriman meningkat dan pasokan energi menjadi tidak menentu.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap sektor industri yang bergantung pada bahan baku berbasis minyak bumi.
Di kawasan Asia Tenggara, dampaknya mulai dirasakan oleh sektor konstruksi, manufaktur, hingga usaha mikro dan menengah. Kenaikan harga bahan bakar serta material konstruksi berbasis minyak, seperti bitumen untuk pembangunan jalan dan trotoar, menambah beban biaya produksi dan pelaksanaan proyek infrastruktur.
Pelaku industri mengeluhkan tingginya volatilitas harga yang membuat penyusunan anggaran menjadi semakin sulit.
Para pemasok disebut kerap melakukan penyesuaian harga dalam waktu singkat, sementara kontraktor telah terikat dalam kontrak dengan nilai yang telah ditetapkan sebelumnya.
“Persoalan utama saat ini bukan kekurangan pasokan, melainkan ketidakpastian harga yang terus berubah dalam waktu singkat,” ungkap sejumlah pelaku industri yang terdampak.
Selain sektor konstruksi, gejolak harga juga merambah industri makanan dan minuman. Berbagai produk yang menggunakan kemasan plastik, pupuk, bahan kimia, hingga helium untuk kebutuhan industri dan hiburan mengalami tekanan biaya akibat naiknya harga energi dan terganggunya distribusi global.
Para ekonom menilai dampak konflik ini berpotensi menjadi guncangan struktural jangka panjang bagi perekonomian kawasan.
Kenaikan biaya logistik dan produksi diperkirakan masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan, bahkan jika ketegangan militer mulai mereda.
Hal tersebut disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan rantai pasok internasional yang telah terganggu selama berbulan-bulan
Sementara itu, upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik terus dilakukan.
Sejumlah laporan menyebutkan adanya peluang tercapainya kesepakatan damai yang dapat membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dan menstabilkan pasar energi global.
Namun hingga kini, ketegangan militer dan insiden keamanan di kawasan masih terus terjadi sehingga ketidakpastian tetap membayangi pasar dunia.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia, dihadapkan pada tantangan kenaikan biaya hidup dan produksi.
Dampak perang yang berlangsung ribuan kilometer dari Asia Tenggara kini telah menjalar ke berbagai sektor ekonomi, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga kebutuhan sehari-hari masyarakat.(asy*)









