Jakarta, Jentik.id – Konflik modern antara Iran melawan Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, memperlihatkan perubahan besar dalam pola peperangan dunia. Dominasi kapal induk raksasa, jet tempur generasi terbaru, dan persenjataan mahal tidak lagi otomatis menjamin
“Menurut pengamat ahli meliter dan perang dari beberapa negara, mengamati perang modern Rusia Versus Ukraina, hingga kini masih berlangsung kedua belah pihak menggunakan persenjataan moderen. Ukraina senjata dipasok dari negara Eropa dan Amerika.
“Di kawasan Selat Hormuz, Iran menunjukkan bagaimana negara dengan keterbatasan ekonomi dan teknologi tetap mampu menciptakan tekanan strategis besar terhadap kekuatan militer dunia melalui perang asimetris berbiaya murah.
Iran tidak memilih menghadapi Amerika Serikat secara konvensional dalam pertempuran terbuka. Teheran memahami bahwa kekuatan militer Washington dan Israel jauh lebih unggul dalam teknologi, armada laut, hingga kekuatan udara.
Karena itu, strategi yang dibangun bukan penguasaan laut penuh, melainkan “sea denial” atau penolakan laut.
Strategi tersebut bertujuan membuat wilayah laut menjadi mahal, berbahaya, dan sulit digunakan oleh lawan.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengembangkan armada “mosquito fleet”, yakni ratusan kapal cepat berukuran kecil yang dipersenjatai roket, rudal, drone, dan ranjau laut.
Kapal-kapal kecil itu bergerak dalam pola serangan kawanan atau swarm attack yang sulit dideteksi radar kapal perang besar.
Selain itu, Iran juga disebut mulai memanfaatkan drone boat kamikaze yang menyamar sebagai kapal nelayan untuk mengganggu tanker minyak dan kapal logistik di Selat Hormuz.
Dampaknya sangat signifikan terhadap ekonomi global. Sekitar seperlima jalur perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Ketika Iran meningkatkan operasi kawanan dan ancaman drone laut, harga minyak dunia langsung bergejolak, premi asuransi kapal meningkat, dan distribusi energi global terganggu.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perang modern kini tidak hanya ditentukan oleh senjata paling mahal, tetapi oleh kemampuan memanfaatkan geografi, teknologi murah, jaringan informasi, serta operasi asimetris yang efektif.
“Menurut para ahli yersebut, Konsep pertahanan Iran dibangun secara menyeluruh di darat, laut, dan udara dengan orientasi menghadapi tekanan jangka panjang. Selain mempersiapkan kemampuan serangan balik, Iran juga mengandalkan semangat nasionalisme dan dukungan rakyat terhadap pertahanan negara.
“Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting bagi Indonesia, apakah konsep Pertahanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) dan perang gerilya masih relevan menghadapi perang modern?
“Pengamat militer menilai konsep tersebut justru semakin relevan. Dalam sejarah Indonesia, strategi perang gerilya terbukti efektif menghadapi musuh yang memiliki teknologi dan persenjataan lebih unggul.
Perang modern saat ini menunjukkan bahwa kekuatan besar tetap dapat dilemahkan melalui mobilitas tinggi, perang jaringan, drone murah, serangan siber, hingga dukungan rakyat.
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki karakter geografis yang sangat strategis. Ribuan pulau, selat sempit, serta wilayah laut luas dapat menjadi keuntungan pertahanan apabila dipadukan dengan teknologi drone, rudal pantai, kapal cepat, dan sistem pertahanan rakyat semesta.
Namun, tantangan ke depan tidak lagi sekadar perang fisik. Konflik modern juga mencakup perang informasi, siber, ekonomi, hingga penguasaan kecerdasan buatan dan teknologi satelit.
Karena itu, modernisasi pertahanan Indonesia tidak cukup hanya membeli alutsista mahal, tetapi juga harus memperkuat industri pertahanan dalam negeri, teknologi drone, sistem radar, pertahanan siber, serta membangun kesiapan rakyat dalam menghadapi ancaman multidimensi.
Perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel menjadi pelajaran penting bahwa perang masa depan semakin bersifat fleksibel, murah, cepat, dan tidak terduga. Negara yang mampu memadukan teknologi, strategi asimetris, dan kekuatan rakyat berpotensi menciptakan daya tangkal besar meski menghadapi kekuatan militer superior.(asy*









