Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Jadi Momentum Pembenahan Struktur Ekonomi

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 12:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelemahan rupiah kali ini dinilai tidak terjadi secara tiba-tiba. Pergerakan mata uang Garuda berlangsung bertahap, dari kisaran Rp16.000 per dolar AS, kemudian menembus Rp17.000 pada awal April, hingga akhirnya mencapai titik terlemah sepanjang sejarah saat ini.

Pelemahan rupiah kali ini dinilai tidak terjadi secara tiba-tiba. Pergerakan mata uang Garuda berlangsung bertahap, dari kisaran Rp16.000 per dolar AS, kemudian menembus Rp17.000 pada awal April, hingga akhirnya mencapai titik terlemah sepanjang sejarah saat ini.

Jakarta, jentik.id – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.750 per dolar AS pada Senin (19/5), tidak hanya dipandang sebagai perubahan angka di pasar keuangan.

Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa perekonomian Indonesia tengah menghadapi ujian besar yang membutuhkan respons mendalam dan menyeluruh.

Di banyak negara berkembang, pergerakan nilai tukar sering dipahami sebatas angka di layar perdagangan. Padahal, di balik pelemahan kurs tersimpan persoalan mengenai ketahanan ekonomi, tingkat kepercayaan investor, kekuatan industri domestik, hingga arah kebijakan pemerintah.

Pelemahan rupiah kali ini dinilai tidak terjadi secara tiba-tiba. Pergerakan mata uang Garuda berlangsung bertahap, dari kisaran Rp16.000 per dolar AS, kemudian menembus Rp17.000 pada awal April, hingga akhirnya mencapai titik terlemah sepanjang sejarah.

Situasi yang berlangsung perlahan tersebut justru dinilai perlu dicermati secara serius. Sebab, pelemahan yang terjadi bertahap sering kali mencerminkan adanya persoalan struktural yang telah lama terbentuk, bukan sekadar dampak sentimen global jangka pendek.

Baca Juga :  Kurs Anjlok ke Rp17.090, Pasar Dibayangi Ketegangan Global

Sejumlah pihak mengaitkan tekanan terhadap rupiah dengan memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel. Kondisi itu memperkuat dolar AS karena investor global cenderung mencari instrumen investasi yang dianggap aman.

Meski demikian, faktor global dinilai bukan satu-satunya penyebab. Mata uang negara lain di kawasan seperti Won Korea Selatan dan Peso Filipina memang ikut melemah, namun tekanan terhadap rupiah terlihat lebih dalam dan berlangsung lebih lama.

Hal itu menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi nasional masih menghadapi tantangan besar. Faktor eksternal memang memengaruhi seluruh negara, namun kekuatan fondasi domestik menjadi penentu utama dalam menghadapi tekanan global.

Dengan demikian, persoalan rupiah saat ini bukan hanya soal gejolak internasional, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana struktur ekonomi Indonesia mampu merespons perubahan global secara berkelanjutan.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Instruksikan Pemangkasan Anggaran MBG Jadi Rp268 Triliun Dari Rp 335 Triliun.

Bank Indonesia dinilai patut diapresiasi karena terus menjaga stabilitas pasar keuangan melalui berbagai instrumen kebijakan. Langkah yang dilakukan antara lain intervensi pasar valuta asing, penerbitan Sekuritas Rupiah,Bank Indonesia (SRBI), pembelian surat berharga negara di pasar sekunder, hingga berbagai upaya stabilisasi lainnya.

Berbagai kebijakan tersebut menunjukkan otoritas moneter bergerak cepat untuk meredam gejolak sekaligus menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.

Pengamat ekonomi menilai, pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pembenahan struktur ekonomi, terutama dalam memperkuat industri berbasis ekspor, mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan investasi produktif, serta memperkuat ketahanan energi dan pangan nasional.

Apabila reformasi struktu, tekanan terhadap rupiah di masa mendatang diyakini tidak akan terlalu rentan terhadap gejolak global.(asy*)

Berita Terkait

Harga Cabai Merah dan Rawit di Pasar Tanjung Bajure Tembus Rp90 Ribu per Kilogram
Jalur Tapan–Sungai Penuh Kembali Normal Setelah Dua Hari Lumpuh Akibat Longsor
Rancangan Mega Proyek Flyover Sungai Penuh–Tapan Dibahas Bersama TNKS
Kebutuhan Dasar Masyarakat Beras Harga Naik,Tembus 12 Persen
Bank Jambi Belum Bisa Layani Nasabahnya Transfer Antarbank via Mobile Banking Nasabah Kecewa
Kursi Menkeu Diserahkan Tanggung Jawab kepada Suahasil Nazara
Presiden Prabowo Copot Purbaya Yudhi Sadewa, Suahasil Nazara Resmi Jadi Menteri Keuangan
Bank Sentral Belanda Pindahkan Cadangan Emas 86 Ton Dari Amerika Serikat
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:51 WIB

Harga Cabai Merah dan Rawit di Pasar Tanjung Bajure Tembus Rp90 Ribu per Kilogram

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Jalur Tapan–Sungai Penuh Kembali Normal Setelah Dua Hari Lumpuh Akibat Longsor

Rabu, 30 September 2026 - 14:32 WIB

Rancangan Mega Proyek Flyover Sungai Penuh–Tapan Dibahas Bersama TNKS

Senin, 21 September 2026 - 12:52 WIB

Kebutuhan Dasar Masyarakat Beras Harga Naik,Tembus 12 Persen

Jumat, 18 September 2026 - 17:03 WIB

Bank Jambi Belum Bisa Layani Nasabahnya Transfer Antarbank via Mobile Banking Nasabah Kecewa

Berita Terbaru