Sumedang, jentik.id – Di tengah derasnya arus industri kantong modern dan produk berbahan plastik, tradisi pembuatan anyaman bongsang di wilayah Sumedang Utara, Jawa Barat, tetap bertahan dan terus hidup dari tangan-tangan pengrajin rumahan.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, aktivitas para pengrajin di Dusun Andir, Desa Andir, semakin sibuk. Pesanan bongsang meningkat tajam, membuat suara bambu dibelah, diraut, lalu dianyam kembali terdengar hampir sepanjang hari dari rumah-rumah warga.
Bongsang merupakan keranjang kecil berbahan anyaman bambu yang sejak lama digunakan sebagai wadah ramah lingkungan untuk membawa buah-buahan, tahu Sumedang, peuyeum, hingga berbagai barang kebutuhan masyarakat.
Produk tradisional ini pernah sangat populer pada era 1980 hingga 1990-an sebelum perlahan tergeser oleh penggunaan kantong modern.
Namun hingga kini, masyarakat Dusun Andir masih mempertahankan kerajinan tersebut sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghasilan keluarga.
Di salah satu rumah pengrajin, Dadang sudah mulai bekerja sejak subuh. Dengan keterampilan turun-temurun yang diwariskan keluarganya sejak tahun 1917, ia mengubah bilah-bilah bambu menjadi keranjang kecil tanpa bantuan mesin maupun cetakan modern.
“Di desa ini, ritme kerja ditentukan oleh datangnya pesanan. Kalau sedang ramai, hampir tidak ada waktu berhenti,” ujar Dadang.
Menurutnya, satu keluarga pengrajin mampu memproduksi sekitar 400 bongsang per hari dalam kondisi normal. Namun menjelang Idul Adha, produksi meningkat hingga 500 sampai 600 bongsang per hari dengan tambahan jam kerja sampai malam hari.
Dalam satu bulan, produksi rumah tangga bisa mencapai 10 ribu hingga 12 ribu bongsang, tergantung ketersediaan bahan baku bambu dan tenaga kerja keluarga.
Penjualan dilakukan dalam bentuk “kantet” atau ikatan berisi 100 bongsang. Satu kantet dijual dengan harga sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu. Pada musim ramai, satu keluarga pengrajin dapat meraih omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta.
Meski terlihat sederhana, industri anyaman bongsang di Sumedang memiliki perputaran ekonomi yang cukup besar.
Sedikitnya terdapat lebih dari 60 kepala keluarga yang masih aktif menjadi pengrajin di wilayah tersebut,dengan rata-rata produksi mencapai 10 ribu bongsang per bulan per keluarga, satu sentra kerajinan mampu menghasilkan lebih dari 160 ribu bongsang setiap bulan.
Jumlah itu belum termasuk produksi dari daerah lain seperti Cisarua, Wado, dan wilayah perbatasan yang juga masih mempertahankan kerajinan bambu rakyat.
Keberadaan pengrajin bongsang kini bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga membangun jaringan ekonomi rakyat yang terus bergerak di tengah persaingan industri modern.
Di saat banyak produk tradisional mulai ditinggalkan, anyaman bongsang Sumedang justru membuktikan bahwa kerajinan berbasis budaya lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat, terutama karena dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai kearifan tradisional yang kuat.(asy*)









