Anyaman Bongsang Sumedang Bertahan di Tengah Gempuran Industri Kantong Modern

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 18:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di saat banyak produk tradisional mulai ditinggalkan, anyaman bongsang Sumedang justru membuktikan bahwa kerajinan berbasis budaya lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat, terutama karena dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai kearifan tradisional yang kuat

Di saat banyak produk tradisional mulai ditinggalkan, anyaman bongsang Sumedang justru membuktikan bahwa kerajinan berbasis budaya lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat, terutama karena dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai kearifan tradisional yang kuat

Sumedang, jentik.id – Di tengah derasnya arus industri kantong modern dan produk berbahan plastik, tradisi pembuatan anyaman bongsang di wilayah Sumedang Utara, Jawa Barat, tetap bertahan dan terus hidup dari tangan-tangan pengrajin rumahan.

Menjelang Hari Raya Idul Adha, aktivitas para pengrajin di Dusun Andir, Desa Andir, semakin sibuk. Pesanan bongsang meningkat tajam, membuat suara bambu dibelah, diraut, lalu dianyam kembali terdengar hampir sepanjang hari dari rumah-rumah warga.

Bongsang merupakan keranjang kecil berbahan anyaman bambu yang sejak lama digunakan sebagai wadah ramah lingkungan untuk membawa buah-buahan, tahu Sumedang, peuyeum, hingga berbagai barang kebutuhan masyarakat.

Produk tradisional ini pernah sangat populer pada era 1980 hingga 1990-an sebelum perlahan tergeser oleh penggunaan kantong modern.

Namun hingga kini, masyarakat Dusun Andir masih mempertahankan kerajinan tersebut sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghasilan keluarga.

Di salah satu rumah pengrajin, Dadang sudah mulai bekerja sejak subuh. Dengan keterampilan turun-temurun yang diwariskan keluarganya sejak tahun 1917, ia mengubah bilah-bilah bambu menjadi keranjang kecil tanpa bantuan mesin maupun cetakan modern.

Baca Juga :  Purbaya Pastikan APBN Aman Meski Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS

“Di desa ini, ritme kerja ditentukan oleh datangnya pesanan. Kalau sedang ramai, hampir tidak ada waktu berhenti,” ujar Dadang.

Menurutnya, satu keluarga pengrajin mampu memproduksi sekitar 400 bongsang per hari dalam kondisi normal. Namun menjelang Idul Adha, produksi meningkat hingga 500 sampai 600 bongsang per hari dengan tambahan jam kerja sampai malam hari.

Dalam satu bulan, produksi rumah tangga bisa mencapai 10 ribu hingga 12 ribu bongsang, tergantung ketersediaan bahan baku bambu dan tenaga kerja keluarga.

Penjualan dilakukan dalam bentuk “kantet” atau ikatan berisi 100 bongsang. Satu kantet dijual dengan harga sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu. Pada musim ramai, satu keluarga pengrajin dapat meraih omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta.

Baca Juga :  Harga Timah Global Naik, Indonesia Berpeluang Perkuat Posisi sebagai Pemasok Timah Dunia

Meski terlihat sederhana, industri anyaman bongsang di Sumedang memiliki perputaran ekonomi yang cukup besar.

Sedikitnya terdapat lebih dari 60 kepala keluarga yang masih aktif menjadi pengrajin di wilayah tersebut,dengan rata-rata produksi mencapai 10 ribu bongsang per bulan per keluarga, satu sentra kerajinan mampu menghasilkan lebih dari 160 ribu bongsang setiap bulan.

Jumlah itu belum termasuk produksi dari daerah lain seperti Cisarua, Wado, dan wilayah perbatasan yang juga masih mempertahankan kerajinan bambu rakyat.

Keberadaan pengrajin bongsang kini bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga membangun jaringan ekonomi rakyat yang terus bergerak di tengah persaingan industri modern.

Di saat banyak produk tradisional mulai ditinggalkan, anyaman bongsang Sumedang justru membuktikan bahwa kerajinan berbasis budaya lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat, terutama karena dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai kearifan tradisional yang kuat.(asy*)

Berita Terkait

Bank Sentral Belanda Pindahkan Cadangan Emas 86 Ton Dari Amerika Serikat
Pendapatan Negara RAPBN 2027 Naik Rp9,1 Triliun, Penerimaan Pajak Bertambah Rp2 Triliun
Penerbangan Di Bandara Soetta Ditutup Sementara Imbas Abu Erupsi Anak Krakatau
Auto Care Kenalkan Teknologi Touchless Shampoo, Kinclong Tanpa Risiko Baret
Wakapolres Kerinci Pantau SPBU, Pastikan Penyaluran BBM Bersubsidi Tepat Sasaran
DPRD Sungai Penuh Sidak SPBU Playang Raya, Soroti Dugaan Pungutan Liar Nomor Antrian Isi BBM
Wali Kota Alfin Resmikan Gen Auto Care Anak Perusahaann, PT Tren Gen Hurizon
Inflasi AS Belum Jinak, Pejabat The Fed Dorong Kenaikan Suku Bunga
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 19:01 WIB

Bank Sentral Belanda Pindahkan Cadangan Emas 86 Ton Dari Amerika Serikat

Senin, 7 September 2026 - 20:30 WIB

Pendapatan Negara RAPBN 2027 Naik Rp9,1 Triliun, Penerimaan Pajak Bertambah Rp2 Triliun

Minggu, 6 September 2026 - 10:14 WIB

Penerbangan Di Bandara Soetta Ditutup Sementara Imbas Abu Erupsi Anak Krakatau

Rabu, 2 September 2026 - 15:38 WIB

Auto Care Kenalkan Teknologi Touchless Shampoo, Kinclong Tanpa Risiko Baret

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:22 WIB

Wakapolres Kerinci Pantau SPBU, Pastikan Penyaluran BBM Bersubsidi Tepat Sasaran

Berita Terbaru

Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi. Lahirlah atlet tembak nasional

Sport

TNI AU Gelar Kompotisi Tembak Di Ikuti 800 Peserta 

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:36 WIB