SORONG, jentik.id – Satgas Batalyon Infanteri (Yonif) 9 Marinir TNI Angkatan Laut menangkap tiga anggota kelompok TPNPB-OPM di Kampung Franeway, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Kamis (29/10/2026).
Petugas menangkap Matius Aisasior yang disebut sebagai komandan batalyon TPNPB-OPM. Mereka juga mengamankan wakilnya, Yeremias Aisasior, serta seorang anggota bernama Zakarias Aikingking.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Letjen TNI Lucky Avianto, menjelaskan kronologi penangkapan tersebut. Menurutnya, personel Yonif 9 Marinir lebih dulu memantau pergerakan kelompok OPM di wilayah itu.
Dalam pemantauan tersebut, prajurit TNI melihat Matius keluar dari Hutan Aisnak, Distrik Moskona Bintuni. Hutan itu diduga menjadi tempat persembunyian kelompoknya.
“Pasukan mendeteksi keberadaan Matius Aisasior saat keluar dari Hutan Aisnak, Distrik Moskona Bintuni, yang diduga selama ini menjadi tempat persembunyian kelompoknya,” kata Lucky dalam keterangannya di Sorong, Sabtu (31/10/2026).
Setelah itu, personel TNI mengikuti pergerakan Matius hingga ke sebuah rumah di Kampung Franeway, Distrik Aifat Timur Jauh. Di sana, Yeremias dan Zakarias telah menunggunya.
Selanjutnya, prajurit Yonif 9 Marinir mendatangi lokasi dan melakukan penyergapan secara persuasif. Lucky menyatakan ketiga orang tersebut menyerah tanpa perlawanan.
Tiga Anggota OPM Diduga Terlibat Aksi Kekerasan
Lucky menyebut Matius dan kelompoknya memiliki hubungan dengan jaringan OPM pimpinan Denni Moss. Kelompok tersebut diduga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan di Papua Barat Daya.
Aksi itu mencakup penyerangan pos keamanan dan pekerja proyek Jalan Trans Bintuni. Selain itu, kelompok tersebut juga diduga melakukan intimidasi serta kekerasan terhadap masyarakat, khususnya orang asli Papua.
Menanggapi situasi tersebut, Lucky mengimbau pimpinan dan anggota OPM yang masih berada di hutan agar menyerahkan diri. Ia juga meminta mereka meletakkan senjata dan kembali bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Lucky menegaskan TNI akan mengutamakan pendekatan persuasif. Meski demikian, prajurit tetap dapat mengambil tindakan tegas sesuai ketentuan hukum dan aturan pelibatan yang berlaku.
“Pendekatan persuasif akan terus diutamakan. Namun, apabila terjadi situasi yang mengharuskan tindakan tegas, TNI akan bertindak sesuai ketentuan hukum dan aturan pelibatan yang berlaku,” ujar Lucky.
Terakhir, Lucky menegaskan bahwa TNI tetap memprioritaskan keselamatan masyarakat dalam setiap pelaksanaan tugas di Papua. (nr*)









