Harga BBM Bakal Naik? Ini Alasan Pemerintah Sulit Menahannya

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 4 April 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.Foto: Muhammad Farrel / detikfoto

Ilustrasi.Foto: Muhammad Farrel / detikfoto

Jakarta, jentik.id-Pemerintah menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sejak 1 April demi menjaga daya beli masyarakat di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Namun, Piter Abdullah dari Prasasti Center for Policy Studies menilai kebijakan tersebut tidak bisa bertahan lama. Ia menegaskan pemerintah akan menghadapi tekanan besar jika harga minyak terus naik hingga akhir tahun.

Menurut Piter, pemerintah perlu menyesuaikan harga energi dalam kondisi tertentu. Selain itu, pemerintah harus menyalurkan kompensasi secara tepat agar masyarakat dan pelaku usaha tidak terbebani.

Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar, dan tekanan fiskal perlu mendapat perhatian serius. Oleh karena itu, pemerintah harus memperkuat koordinasi antarotoritas ekonomi untuk menjaga stabilitas keuangan.

Baca Juga :  El Nino Ekstrem Mengancam, Amran Ungkap Stok Beras Indonesia Tembus 4,5 Juta Ton

Dalam situasi ini, pelaku usaha menunggu arah kebijakan dari Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Kementerian Keuangan.

Saat ini, harga minyak dunia sudah melampaui asumsi APBN 2026 di kisaran US$70 per barel. Bahkan, harga pasar bergerak di level US$90 hingga US$100 per barel.

Sementara itu, Halim Alamsyah dari Prasasti memperkirakan kondisi tersebut akan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia memproyeksikan pertumbuhan hanya berada di kisaran 4,7% hingga 4,9%, lebih rendah dari rata-rata sekitar 5% dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga :  Purbaya Tegaskan Tetap Menkeu, Rupiah Sentuh Rekor Rp18.003 per Dolar AS

Lebih lanjut, Halim menilai harga minyak tinggi dan pelemahan rupiah dapat memperlebar defisit fiskal. Jika harga minyak menyentuh US$100 per barel dan rupiah berada di sekitar Rp17.000 per dolar, defisit bisa naik ke kisaran 3,3% hingga 3,5% dari PDB.

Angka tersebut melampaui batas defisit 3% yang selama ini pemerintah jaga. Dengan kondisi ini, pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis agar stabilitas ekonomi tetap terjaga. (nr*)

Berita Terkait

KPK Ungkap Dugaan Kerugian Negara Triliunan Rupiah dalam Kasus Cukai PT Djarum
Dakwaan Silmy Karim Ungkap Uang Klik, Saham Rp 31 Miliar hingga Biaya Kuliah S3
Amran Bongkar Dugaan Pengoplosan 600 Ton Beras SPHP, Kerugian Capai Rp3,3 Miliar
Amran Bertindak Tegas! 8 Pejabat Bapanas-Bulog Dicopot Buntut Dugaan Penyelewengan Beras SPHP
Kepala BGN Klaim Hemat Anggaran MBG Rp44 Triliun, Tutup 2.000 Dapur Bermasalah
BGN Siapkan Pejabat Daerah Setingkat Kapolres hingga Kapolda, Ini Tugasnya
Mentan Amran Bongkar Dugaan Pengalihan Beras SPHP Jadi Premium di Jakarta Timur
OJK Ingatkan Modus Penipuan Kerja Online hingga Love Scam, Masyarakat Diminta Waspada
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:42 WIB

KPK Ungkap Dugaan Kerugian Negara Triliunan Rupiah dalam Kasus Cukai PT Djarum

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:32 WIB

Dakwaan Silmy Karim Ungkap Uang Klik, Saham Rp 31 Miliar hingga Biaya Kuliah S3

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Amran Bongkar Dugaan Pengoplosan 600 Ton Beras SPHP, Kerugian Capai Rp3,3 Miliar

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:32 WIB

Amran Bertindak Tegas! 8 Pejabat Bapanas-Bulog Dicopot Buntut Dugaan Penyelewengan Beras SPHP

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Kepala BGN Klaim Hemat Anggaran MBG Rp44 Triliun, Tutup 2.000 Dapur Bermasalah

Berita Terbaru