New York, jentik.id – Industri pariwisata Amerika Serikat belum merasakan lonjakan wisatawan yang sebelumnya diperkirakan akan terjadi menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Tingginya harga tiket pertandingan, mahalnya biaya perjalanan, serta kesulitan memperoleh visa disebut menjadi faktor utama yang menekan minat suporter internasional untuk datang ke Amerika Serikat.
Mengutip laporan Reuters, Jumat (12/6), sejumlah hotel di kota-kota tuan rumah bahkan terpaksa menurunkan tarif kamar karena jumlah pengunjung yang datang jauh lebih rendah dari perkiraan awal dan penurunan juga terlihat pada sektor penerbangan.
Berdasarkan data perusahaan analisis penerbangan Cirium, pemesanan tiket pesawat dari Eropa menuju sebagian besar kota tuan rumah Piala Dunia selama periode Juni hingga Juli tercatat turun rata-rata 3,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan paling signifikan terjadi pada rute menuju New York, yang akan menjadi lokasi partai final Piala Dunia pada 19 Juli mendatang. Pemesanan penerbangan ke kota tersebut tercatat merosot hingga 15,8 persen secara tahunan.
Chief Executive Officer Hotel Association of New York City, Vijay Dandapani, mengakui kondisi tersebut jauh dari harapan pelaku industri perhotelan.
“Secara keseluruhan, ini mengecewakan,” ujar Dandapani.
Asosiasi Hotel New York bahkan memangkas proyeksi pendapatan kamar yang berkaitan dengan penyelenggaraan Piala Dunia hingga 60 persen. Nilainya kini diperkirakan hanya mencapai sekitar US$60 juta atau setara Rp1,07 triliun dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS.
Sebelumnya, FIFA memperkirakan sekitar 1,2 juta suporter akan mengunjungi New York selama turnamen berlangsung.
Namun, asosiasi hotel setempat kini merevisi estimasi tersebut menjadi sekitar 500 ribu pengunjung.
Sementara itu, data dari perusahaan analisis properti dan perhotelan CoStar menunjukkan tingkat pemesanan hotel di seluruh kota tuan rumah hanya meningkat 0,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Rendahnya permintaan turut mendorong sejumlah hotel menyesuaikan tarif kamar.
Salah satu contohnya adalah New York Hilton Midtown, hotel terbesar di New York, yang dilaporkan memangkas tarif kamar selama periode turnamen hingga setengah dari harga yang ditawarkan pada Desember lalu.
Tarif kamar kini berada di kisaran US$415 atau sekitar Rp7,42 juta per malam.
Pelaku industri berharap jumlah pengunjung akan meningkat mendekati pelaksanaan turnamen. Namun hingga saat ini, indikator pemesanan hotel dan penerbangan menunjukkan antusiasme wisatawan internasional masih berada di bawah ekspektasi yang sebelumnya diproyeksikan.(asy*).









