LEBANON, jentik.id – Militer Israel memulai uji coba penarikan pasukan dari Lebanon selatan pada Minggu (28/6). Langkah ini menjadi tahap awal pelaksanaan perjanjian kerangka kerja yang Israel dan Lebanon sepakati dengan mediasi Amerika Serikat (AS).
Media penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan Israel memulai uji coba tersebut di dua wilayah di Nabatieh, Lebanon selatan. Militer Israel berkoordinasi langsung dengan tentara Lebanon melalui jalur komunikasi yang didukung AS.
Setelah menarik pasukannya, Israel akan menyerahkan pengamanan wilayah itu kepada tentara Lebanon. Tentara Lebanon kemudian akan menjaga wilayah tersebut untuk mencegah kekosongan keamanan dan mengantisipasi masuknya kembali pejuang Hizbullah.
Seorang pejabat keamanan Israel menegaskan militer tetap akan menyerang setiap pihak yang mengancam pasukannya. Israel mempertahankan kebijakan itu meski kedua negara telah menandatangani perjanjian.
Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, akan memantau langsung proses penarikan pasukan di dua wilayah percontohan.
Serangan Udara Belum Berhenti
Di tengah proses penarikan pasukan, militer Israel tetap melancarkan serangan udara di Lebanon selatan.
Kantor berita resmi Lebanon, NNA, melaporkan pesawat tempur Israel menggempur wilayah pinggiran Deir Seryan dan Taybeh pada Minggu (28/6).
Reuters melaporkan serangan itu juga menghantam kawasan Tyre yang berstatus Situs Warisan Dunia UNESCO, pasar era Mamluk di Nabatieh, serta sejumlah desa tua di wilayah perbatasan.
AFP melaporkan bentrokan terjadi antara pasukan Israel dan seorang pejuang Hizbullah di sebuah bangunan di Deir Seryan. Setelah bentrokan itu, militer Israel melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di kawasan tersebut.
Dalam insiden itu, Kapten David Hazutt (21) meninggal dunia. Seorang tentara Israel lainnya mengalami luka ringan.
Israel kemudian memburu pelaku dan kembali menggempur sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi persembunyian. (nr*)









