Jambi Jadi Sorotan Satgas Pangan, Ratusan PKS Diduga Tekan Harga TBS Petani Sawit

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI Masuk 16 Daftar Provinsi Diawasi, Banyak Pabrik Sawit Nakal Beli TBS Tak Wajar. Jambi menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus karena besarnya kontribusi perkebunan rakyat terhadap produksi sawit daerah.

JAMBI Masuk 16 Daftar Provinsi Diawasi, Banyak Pabrik Sawit Nakal Beli TBS Tak Wajar. Jambi menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus karena besarnya kontribusi perkebunan rakyat terhadap produksi sawit daerah.

JAMBI, jentik.id – Satgas Pangan Polri memperketat pengawasan terhadap pabrik kelapa sawit (PKS) yang membeli Tandan Buah Segar (TBS) petani swadaya di bawah harga acuan pemerintah.

Jambi masuk dalam 16 provinsi sentra sawit yang menjadi fokus pengawasan. Satgas mengambil langkah ini untuk menciptakan tata niaga sawit yang lebih adil dan melindungi pendapatan petani.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri sekaligus Kepala Satgas Pangan, Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak, mengatakan tim melakukan pemantauan intensif pada 9–22 Juni 2026.

Ia menjelaskan, Satgas ingin memastikan seluruh PKS membeli TBS petani swadaya nonmitra dengan harga normal. Harga tersebut minimal harus sama seperti sebelum 20 Mei 2026.

Selain Jambi, Satgas juga mengawasi Aceh, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Satgas Masih Soroti Ratusan PKS

Hasil pemantauan menunjukkan jumlah PKS bermasalah mulai menurun. Sebelumnya, Satgas mencatat 280 PKS. Kini jumlahnya berkurang menjadi 194 PKS.

Baca Juga :  Puncak HUT ke-80 Bhayangkara, Polres Kerinci Gelar Upacara Kapolres AKBP Ramadhani  Bacakan Amanat Presiden RI

Meski turun, Satgas tetap mengawasi perusahaan-perusahaan tersebut.

Bareskrim Polri membentuk lima tim khusus untuk menindaklanjuti temuan itu. Tim tersebut sudah mengklarifikasi 14 PKS. Satgas Pangan di daerah juga memeriksa 159 PKS lainnya.

Polri menggandeng Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Kedua lembaga itu menyelidiki dugaan persaingan usaha tidak sehat yang menekan harga TBS petani.

Harga Acuan dan Harga Lapangan Masih Berbeda

Tim Penetapan Harga TBS Dinas Perkebunan Provinsi Jambi menetapkan harga TBS sawit umur 10–20 tahun sebesar Rp3.706 per kilogram untuk periode 19–25 Juni 2026.

Tim menyusun harga tersebut berdasarkan harga CPO Rp14.985,30 per kilogram, harga kernel Rp12.093,74 per kilogram, dan indeks K sebesar 94,64 persen.

Namun, petani belum menikmati harga tersebut.

Beberapa PKS di Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, membeli TBS dengan harga Rp3.245 hingga Rp3.265 per kilogram. Bahkan, harga sempat turun menjadi sekitar Rp3.225 per kilogram.

Selisih harga mencapai sekitar Rp481 per kilogram dibandingkan harga acuan pemerintah.

Baca Juga :  Tiga Dekade Otonomi Daerah Masih Ketergantungan Tranfer Dengan  Pusat

Petani Kehilangan Pendapatan

Petani menerima harga yang lebih rendah ketika menjual hasil panen melalui pengepul atau toke.

Pengepul membeli TBS dengan harga Rp2.875 hingga Rp2.975 per kilogram. Selisihnya mencapai Rp731 hingga Rp831 per kilogram dari harga acuan.

Jika petani menjual 10 ton TBS dalam sekali panen, mereka berpotensi kehilangan pendapatan sekitar Rp7,3 juta hingga Rp8,3 juta.

Dalam satu bulan, potensi kerugian itu dapat mencapai puluhan juta rupiah.

Pengawasan Terus Berlanjut

Harga sawit nasional dan harga CPO dunia terus meningkat. Namun, petani swadaya belum menikmati kenaikan tersebut.

Rantai distribusi yang panjang dan tata niaga yang belum transparan masih menekan harga di tingkat petani.

Perbedaan harga antara acuan pemerintah, PKS, dan pengepul menunjukkan masih ada persoalan dalam tata niaga sawit.

Karena itu, Satgas Pangan Polri terus memperkuat pengawasan. Polri juga menyiapkan langkah hukum jika menemukan manipulasi timbangan, rekayasa rendemen, pemalsuan dokumen transaksi, atau pelanggaran lain yang merugikan petani. (nr*)

Berita Terkait

Safari Jumat ke Pinggir Air, Wako Alfin Serahkan Bantuan Rp5 Juta untuk Masjid Baiturrahim
Kapolres Kerinci Pimpin Green Policing, Tanam Pohon Kehidupan Produktif Di Lingkungan Asrama Polres
6.516 Hektare Lahan Terbakar di Kaltim, 33 Tersangka Jadi Sasaran Penegakan Hukum
Karhutla Meluas, TNI AU Kerahkan 11 Pesawat Angkut untuk Padamkan Kebakaran
Kapolres Kerinci Tinjau BLK, Dorong Peningkatan Keterampilan Dan Peluang Kerja Bagi Generasi Muda
Wawako Azhar Hadiri HUT ke-27 Muaro Jambi, Perkuat Sinergi Daerah
Polda Riau Sita 35 Kg Sabu Senilai Rp62,9 Miliar, Jaringan Malaysia Sasar Tiga Provinsi
BAZNAS Pariaman Bantu Pemulung Bangkit, Bentor Jadi Modal Cari Rezeki Lebih Mudah
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Safari Jumat ke Pinggir Air, Wako Alfin Serahkan Bantuan Rp5 Juta untuk Masjid Baiturrahim

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Kapolres Kerinci Pimpin Green Policing, Tanam Pohon Kehidupan Produktif Di Lingkungan Asrama Polres

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:38 WIB

6.516 Hektare Lahan Terbakar di Kaltim, 33 Tersangka Jadi Sasaran Penegakan Hukum

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:27 WIB

Karhutla Meluas, TNI AU Kerahkan 11 Pesawat Angkut untuk Padamkan Kebakaran

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Kapolres Kerinci Tinjau BLK, Dorong Peningkatan Keterampilan Dan Peluang Kerja Bagi Generasi Muda

Berita Terbaru