Taipei, jentik.id – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai bukan ancaman yang harus ditakuti, melainkan peluang yang wajib dipelajari agar tidak8 tertinggal zaman.
CEO NVIDIA, Jensen Huang, menegaskan bahwa narasi yang mengaitkan AI dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan pandangan yang keliru dan tidak bertanggung jawab.
Dalam wawancara bersama Victoria Jen dari CNA pada acara Meet-a-Claw di Taipei, Taiwan, Senin (23/5), Huang menilai banyak pihak terlalu cepat menyalahkan AI atas pengurangan tenaga kerja di sejumlah perusahaan teknologi besar.
“AI baru hadir dan mulai benar-benar produktif beberapa bulan terakhir. Jadi tidak masuk akal jika ada perusahaan yang mengaitkan PHK dua tahun lalu dengan AI,” ujar Huang.
Menurutnya, ketakutan berlebihan terhadap AI justru dapat menyesatkan masyarakat. Ia menilai teknologi selalu membawa perubahan besar, sama seperti ketika komputer pribadi atau PC mulai digunakan secara luas.
“PC tidak mengambil pekerjaan manusia. Orang yang tidak belajar menggunakan PC-lah yang akhirnya tertinggal,” katanya.
Huang menegaskan, pekerja tidak akan kehilangan pekerjaan karena AI semata, tetapi karena kalah bersaing dengan orang yang lebih cepat mempelajari dan memanfaatkan teknologi tersebut.
“Anda tidak akan kehilangan pekerjaan karena AI. Anda akan kehilangan pekerjaan karena seseorang mempelajari AI lebih baik daripada Anda,” tegasnya.
Belakangan ini, isu PHK yang dikaitkan dengan AI memang ramai diperbincangkan.
Sejumlah perusahaan global disebut mulai meningkatkan efisiensi melalui penggunaan teknologi kecerdasan buatan.
CEO Standard Chartered Bill Winters sempat menuai kritik setelah menyebut perusahaan menggantikan “tenaga kerja manusia bernilai rendah” dengan teknologi saat mengumumkan rencana pemangkasan lebih dari 7.000 pekerja dalam empat tahun ke depan.
Ia kemudian meminta maaf atas pernyataannya.
Sementara itu, laporan Reuters juga menyebut Meta berencana memangkas lebih dari 20 persen tenaga kerjanya guna menekan biaya sekaligus meningkatkan investasi di bidang AI.
Meski demikian, Huang tetap optimistis AI justru akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dalam beberapa tahun mendatang.
Menurutnya, perusahaan yang mampu memanfaatkan AI akan tumbuh lebih cepat, menjadi lebih produktif, dan pada akhirnya membutuhkan lebih banyak tenaga kerja.
“Perusahaan yang lebih produktif akan berkembang lebih besar dan lebih menguntungkan. Ketika itu terjadi, mereka akhirnya akan mempekerjakan lebih banyak orang,” ujarnya.
Ia mencontohkan NVIDIA yang terus memperluas perekrutan tenaga kerja seiring meningkatnya penggunaan AI di berbagai sektor industri.
“Hal-hal yang dulu kami pikir membutuhkan waktu 10 tahun, sekarang mungkin hanya perlu satu atau dua tahun,” kata Huang.
Ia pun mengingatkan masyarakat untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tidak tertinggal di era digital.
“Jika Anda tidak memanfaatkan teknologi pada zaman Anda, Anda akan tertivnggal,” tutupnya.(asy*).









