Pakistan, jentik.id-Pakistan memperluas penggunaan energi surya di tengah gejolak global. Sekitar 25 persen rumah tangga kini memakai panel surya, sehingga mampu mengurangi dampak krisis energi akibat konflik AS–Israel dan Iran.
Karim Baksh, petani di Dasht, Balochistan, merasakan manfaatnya. Ia dulu memakai pompa diesel, namun kenaikan harga bahan bakar membuat biaya membengkak. Pada 2023, ia memasang panel surya dan kini dapat mengairi ladang tanpa bergantung pada diesel.
“Saya tidak khawatir lagi soal harga bahan bakar,” ujarnya.
Penutupan Selat Hormuz sempat mendorong lonjakan harga energi dunia. Jalur ini menjadi lintasan utama minyak dan gas global.
Pakistan sangat bergantung pada jalur tersebut, sehingga rentan terhadap gangguan pasokan dan risiko pemadaman listrik.
Masyarakat mulai beralih ke energi surya untuk mengatasi krisis. Sejak 2018, penggunaan panel surya membantu menghemat miliaran dolar dari impor energi.
Pangsa energi surya juga naik pesat dalam bauran energi nasional hingga lebih dari 30 persen.
Energi surya membantu daerah dengan listrik terbatas, namun biaya pemasangan masih tinggi. Akibatnya, kelompok menengah ke atas lebih banyak memanfaatkannya.
Selain itu, Pakistan masih bergantung pada impor panel surya dari China.
Meski begitu, tren energi surya terus meningkat seiring turunnya harga panel.
Bagi Baksh, energi surya menjadi solusi jangka panjang.
“Selama matahari ada, saya tetap bisa bertani.” (nr*)









