JAKARTA, jentik.id – Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat mendorong inflasi Indonesia pada Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan mencapai 0,22 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi. Kelompok ini mengalami inflasi 0,51 persen dengan andil 0,15 persen terhadap inflasi umum.
“Cabai merah memberikan andil inflasi sebesar 0,13 persen. Selanjutnya, cabai rawit menyumbang 0,05 persen dan tomat sebesar 0,04 persen,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Selain komoditas tersebut, kenaikan harga sawi hijau, labu siam, dan sawi putih juga mendorong inflasi. Masing-masing komoditas memberikan andil sebesar 0,01 persen.
BPS juga mencatat kenaikan tarif angkutan udara dengan kontribusi inflasi sebesar 0,01 persen.
Sebaliknya, penurunan harga emas perhiasan menekan inflasi. Kondisi ini membuat kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,06 persen dengan andil deflasi 0,01 persen.
Harga Pangan Jadi Pendorong Utama Inflasi
Berdasarkan komponen pengeluaran, seluruh kelompok inflasi mencatat kenaikan harga selama Oktober 2026. Komponen tersebut meliputi inflasi inti, harga yang diatur pemerintah, dan harga pangan bergejolak.mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,77 persen. Komponen ini menyumbang 0,13 persen terhadap inflasi umum.
Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, tomat, sawi hijau, labu siam, dan sawi putih menjadi faktor utama pendorong komponen tersebut.
Sementara itu, inflasi inti mencapai 0,12 persen dengan andil 0,07 persen. Ateng menjelaskan tidak ada komoditas tertentu yang mendominasi kenaikan harga pada komponen ini.
Adapun komponen harga yang diatur pemerintah mencatat inflasi 0,09 persen dengan andil 0,02 persen. Kenaikan tarif angkutan udara menjadi salah satu penyumbang utamanya.
Papua Selatan Catat Inflasi Tertinggi
Dari sisi wilayah, BPS mencatat 33 provinsi mengalami inflasi bulanan pada Oktober 2026. Sebaliknya, lima provinsi lainnya mengalami penurunan harga atau deflasi.
Papua Selatan mencatat inflasi tertinggi sebesar 1,12 persen. Sementara itu, Gorontalo mengalami deflasi terdalam dengan angka 0,67 persen.
Data tersebut menunjukkan kenaikan harga pangan, khususnya cabai, masih memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan inflasi nasional. (nr*)









