Denpasar, jentik.id— Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berdampak pada perjalanan internasional. Sejumlah negara di Timur Tengah menutup wilayah udara demi alasan keamanan.
Kondisi ini membuat banyak penerbangan tertunda dan penumpang tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Salah satunya Adi Darmadi (31), warga Kota Denpasar, Bali. Ia tertahan di Dubai, Uni Emirat Arab, selama lima hari karena penutupan jalur penerbangan.
Adi awalnya berencana berlibur selama sepekan di Dubai. Namun situasi berubah setelah ketegangan geopolitik meningkat dan aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Dubai berhenti.
Otoritas bandara menghentikan sementara penerbangan untuk menghindari risiko aktivitas militer di jalur udara komersial.
Adi sempat menerima informasi bahwa maskapai Emirates akan kembali mengoperasikan penerbangan pada Senin (2/3/2026) pukul 15.00 waktu setempat. Namun hingga kini ia belum mendapat kepastian jadwal keberangkatan.
“Saya dapat informasi maskapai Emirates akan melanjutkan penerbangan Senin pukul 15.00. Tapi sampai sekarang belum ada konfirmasi dari pihak bandara,” ujar Adi, Selasa (3/3/2026).
Situasi tersebut membuat Adi merasa cemas. Ia khawatir keselamatan penerbangan jika konflik di kawasan tersebut masih berlangsung.
“Ada rasa takut juga kalau nanti sudah bisa terbang, pesawat melintasi wilayah berbahaya. Semoga semuanya aman,” katanya.
Penutupan wilayah udara di sejumlah negara Timur Tengah memaksa banyak pelancong menunda perjalanan pulang.
Maskapai dan otoritas bandara kini terus memantau perkembangan situasi keamanan sebelum kembali membuka jalur penerbangan secara normal. (nr*)









