JAMBI, jentik.id – Konflik antara Iran dan Amerika–Israel mulai memengaruhi ekspor pinang dari Jambi ke kawasan Timur Tengah. Pada Maret 2026, eksportir hanya mengajukan dua permohonan ekspor pinang ke wilayah tersebut.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jambi, Sudiwan Situmorang, mengatakan para pengusaha selama ini rutin mengirim pinang dari Jambi ke beberapa negara Timur Tengah seperti Iran, Arab Saudi, Pakistan, dan Uni Emirat Arab.
Menurut Sudiwan, komoditas pinang Jambi sudah lama menembus pasar internasional, terutama dari wilayah Kuala Tungkal dan Betara yang menjadi sentra produksi.
“Ekspor pinang yang terkenal berasal dari Kuala Tungkal. Di Betara juga banyak, dan komoditas ini sudah dikenal sampai ke luar negeri,” ujar Sudiwan saat ditemui di kantornya, Jumat (6/3/2026).
Selain ke Timur Tengah, para eksportir juga mengirim pinang dari Jambi ke India. Dalam satu bulan, aktivitas ekspor dapat mencapai sekitar 200 kali pengiriman, sedangkan dalam setahun jumlahnya sekitar 900 kali.
Data karantina mencatat tujuan ekspor terbesar menuju Bangladesh sebanyak 416 kali, disusul Iran 192 kali, Thailand 107 kali, India 77 kali, Pakistan 26 kali, Arab Saudi 21 kali, dan Uni Emirat Arab 17 kali. Total volume ekspor mencapai sekitar 52,5 juta kilogram.
Sudiwan menyebut nilai ekspor pinang Jambi pada 2025 mencapai sekitar Rp1,3 triliun dengan penerimaan PNBP Rp210,8 juta. Sementara pada tahun ini, nilai ekonominya mencapai sekitar Rp52,7 miliar.
Meski demikian, aktivitas ekspor ke Timur Tengah tetap bergantung pada permintaan para eksportir.
“Jika pengusaha mengajukan permohonan ekspor, kami tetap melayani dan berdiskusi dengan mereka,” kata Sudiwan.
Ia berharap konflik di kawasan Timur Tengah segera mereda karena kondisi tersebut mulai mengganggu jalur distribusi perdagangan internasional.
Menurutnya, penutupan selat di wilayah konflik membuat jalur pelayaran menuju Iran terhambat. Akibatnya, aktivitas perdagangan di pelabuhan Bandar Abbas turun hingga sekitar 20 persen. (nr*)









