Beirut, jentik.id – Israel mengklaim telah menewaskan pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, melalui serangan udara di Beirut, Kamis (9/4). Serangan ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Militer Israel menyatakan telah menargetkan Qassem dalam operasi yang berlangsung semalam. Namun, hingga kini Hizbullah belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim tersebut.
Kematian Qassem, jika terbukti, akan menjadi pukulan besar bagi Hizbullah dan Iran. Pasalnya, kelompok ini merupakan sekutu utama Teheran di kawasan Timur Tengah.
Konflik kawasan memanas sejak awal Maret. Saat itu, Hizbullah melancarkan serangan ke Israel dan secara terbuka bergabung mendukung Iran. Aksi tersebut terjadi setelah serangan udara yang melibatkan AS dan Israel ke Iran.
Di sisi lain, Israel terus menekan Hizbullah dengan serangan di Lebanon. Israel menilai kelompok itu tetap memperkuat kekuatan militernya meski sempat terjadi gencatan senjata pada 2024.
Sementara itu, Hizbullah menolak proposal AS untuk melucuti senjata. Sebelumnya, Qassem juga memperingatkan bahwa kelompoknya siap meluncurkan serangan balasan jika konflik besar kembali pecah.
Qassem sendiri memimpin Hizbullah sejak 2024 setelah menggantikan Hassan Nasrallah yang tewas dalam serangan udara Israel di Beirut.
Sebagai informasi, Hizbullah berdiri pada 1982 oleh militan Syiah di Lebanon dengan dukungan Iran. Kelompok ini awalnya bertujuan melawan pendudukan Israel di Lebanon selatan. (nr*)









