Jakarta, jentik.id – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya sentimen global pasca pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Pada perdagangan Senin (18/5) pagi, rupiah melemah 33 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp17.630 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.
Analis mata uang, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipicu sentimen risk off global setelah hasil pertemuan Xi dan Trump dinilai belum memberikan solusi konkret terkait konflik geopolitik, khususnya perang yang melibatkan Iran.
“Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk off global sejak Jumat lalu, sementara dolar AS menguat cukup besar di tengah aksi jual berbagai aset seperti obligasi, saham, kripto, dan mata uang,” ujar Lukman.
Menurutnya, investor kecewa karena pertemuan kedua pemimpin dunia tersebut tidak banyak membahas solusi terhadap konflik AS-Iran yang masih memanas. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi global serta lonjakan harga minyak mentah dunia.
Dalam pertemuan tersebut, China disebut mendorong agar Selat Hormuz segera dibuka kembali dengan tetap mempertahankan gencatan senjata. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan negaranya terus berupaya mendorong perdamaian dan memfasilitasi perundingan demi meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.
Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut proses mediasi yang melibatkan Pakistan dan AS masih menghadapi jalan sulit.
Iran disebut masih menyimpan ketidakpercayaan terhadap Washington karena adanya pesan-pesan yang dinilai kontradiktif dari pemerintah AS.
Araghchi juga menegaskan Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi meski situasi gencatan senjata dinilai masih rapuh, sautuwaktu konflik bisa pecah kembali yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran.
Sementara itu, Trump mengaku belum yakin kesepakatan dengan Iran dapat segera tercapai. Negosiasi terkait program nuklir Iran dan upaya penghentian konflik hingga kini belum menunjukkan titik terang.
Ketidakpastian tersebut membuat harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan. Meski China dan AS sepakat memperkuat sejumlah kerja sama bilateral, pasar tetap lebih fokus terhadap ancaman lonjakan harga energi global.
“Kedua negara dan dunia tentu menginginkan perang segera berakhir. Namun tampaknya sulit bagi Iran melepaskan ambisi nuklirnya, sehingga dalam pertemuan Xi dan Trump lebih banyak membahas hubungan kedua negara,” kata Lukman.
Berdasarkan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.550 hingga Rp17.650 per dolar AS. Sejumlah analis juga menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut secara bertahap apabila ketegangan geopolitik dan penguatan dolar AS terus terjadi.(asy*)









