WMO Peringatkan El Nino Berpotensi Picu Cuaca Ekstrem dan Kekeringan di Sejumlah Wilayah Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 17:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Poto statlit pergerakan El nino,Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, menegaskan bahwa dunia harus bersiap menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan akan pemerintah berbagai negara, termasuk Indonesia, diimbau memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan sejak dini, terutama dalam sektor ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, kesehatan masyarakat, serta penanggulangan bencana.

Poto statlit pergerakan El nino,Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, menegaskan bahwa dunia harus bersiap menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan akan pemerintah berbagai negara, termasuk Indonesia, diimbau memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan sejak dini, terutama dalam sektor ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, kesehatan masyarakat, serta penanggulangan bencana.

Jenewa, jentik.id – Badan Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa fenomena El Nino berpotensi kembali berkembang dalam beberapa bulan mendatang dan memicu berbagai dampak cuaca ekstrem di sejumlah kawasan dunia, termasuk Indonesia.

Dalam laporan terbarunya, WMO menyebut peluang kemunculan El Nino pada periode Juni hingga Agustus mencapai sekitar 80 persen. Fenomena iklim tersebut diperkirakan dapat bertahan hingga November dengan probabilitas yang tinggi.

Menurut WMO, perkembangan El Nino dipicu oleh suhu permukaan laut yang lebih hangat dari normal di kawasan Pasifik tropis.

Kondisi ini berpengaruh terhadap pola suhu dan curah hujan global, serta meningkatkan risiko berbagai kejadian cuaca ekstrem.
Indonesia menjadi salah satu negara yang berpotensi mengalami kondisi lebih kering dari biasanya akibat dampak El Nino.

Selain Indonesia, wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi Australia, Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, kawasan Karibia, serta sebagian Asia Selatan.
WMO juga memperkirakan suhu udara global selama periode Juni hingga Agustus akan berada di atas rata-rata normal di hampir seluruh wilayah dunia.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gelombang panas, stres akibat suhu tinggi, serta mempercepat terjadinya kekeringan di sejumlah daerah yang mengalami penurunan curah hujan.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, menegaskan bahwa dunia harus bersiap menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan akan semakin memperburuk kondisi pemanasan global.

Baca Juga :  Kakorlantas Polri Tekankan Digitalisasi Dan Pelayanan Humanis Untuk Kepentingan Masyarakat

“Berfasarjan penantauan Ilmu pengetahuan sudah sangat jelas. El Nino akan hadir dalam beberapa bulan mendatang dengan tingkat kepastian yang sangat tinggi. Ini merupakan peringatan iklim yang mendesak bagi seluruh dunia,” ujar Guterres dalam pernyataan video yang dirilis Selasa.

Menurutnya, dampak El Nino akan memperparah efek perubahan iklim yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir.

“Dampaknya akan terasa lebih berat, menjangkau lebih luas, dan melintasi batas negara dengan kecepatan yang menghancurkan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris

Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengatakan dunia perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan El Nino yang kuat karena fenomena tersebut dapat memperburuk kekeringan, hujan ekstrem, hingga gelombang panas di daratan maupun lautan.

“Kita perlu bersiap menghadapi potensi El Nino yang kuat, yang akan memperparah kekeringan dan hujan lebat serta meningkatkan risiko gelombang panas di daratan maupun lautan,” ujar Saulo.

Ia mengingatkan bahwa fenomena El Nino periode 2023–2024 merupakan salah satu dari lima peristiwa terkuat yang pernah tercatat dan turut berkontribusi terhadap rekor suhu global tertinggi yang terjadi pada 2024.

Baca Juga :  Ini Faktor yang Bisa Membuat Status Ekonomi Masuk Desil Tinggi

Menurut Saulo, penguatan sistem peringatan dini dan prakiraan cuaca musiman menjadi langkah penting untuk menyelamatkan nyawa, melindungi masyarakat, serta meminimalkan dampak ekonomi akibat bencana hidrometeorologi.

El Nino merupakan fase hangat dari fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO), yaitu pola iklim alami yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik ekuator.

Fenomena ini biasanya muncul setiap dua hingga tujuh tahun dan dapat berlangsung selama sembilan hingga dua belas bulan.

Selain memicu kondisi lebih kering di sejumlah wilayah, WMO juga mengingatkan bahwa El Nino dapat meningkatkan risiko banjir di daerah lain yang mengalami curah hujan di atas normal.

Karena itu, pemerintah berbagai negara, termasuk Indonesia, diimbau memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan sejak dini, terutama dalam sektor ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, kesehatan masyarakat, serta penanggulangan bencana.

Guterres menegaskan bahwa kesiapan menghadapi El Nino menjadi sangat penting bagi negara-negara yang rentan terhadap perubahan iklim.

“Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Selain berpotensi menghadapi cuaca panas dan kekeringan di sejumlah wilayah, sebagian daerah lainnya juga dapat menghadapi risiko banjir yang berdampak pada ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat,” tegasnya.(asy*).

Berita Terkait

Ribuan Jemaah Haji dari AS dan Eropa Tetap Berdatangan ke Makkah, Tak Khawatir Situasi Perang
744 Personel TNI Tiga Matra Diberangkatkan Jalankan Misi Perdamaian UNIFIL di Lebanon
Tingkatkan Profesionalisme Personel, Sat Lantas Polres Kerinci Gelar Latihan Simulasi  Olah TKP Laka Lantas
Perang Modern Dipertontonkan Iran versus Amerika-Israel ” Masih Relevansi Pertahanan Rakyat Semesta Dan Perang Gerilya “
Radar GCI Len Kedua Resmi Perkuat Pengawasan Wilayah Udara Indonesia
Warga Pegunungan Bintang Dibawah Ancaman OPM Dipaksa Tanam Ganja, TNI Sebut ini  Serius Terhadap Ketahanan Nasional
Kakorlantas Polri Tekankan Digitalisasi Dan Pelayanan Humanis Untuk Kepentingan Masyarakat
Pasca Tabrakan Maut Tewaskan 18 Orang, Komisi V DPR RI Desak Evaluasi Total Jalan Lintas Sumatera
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 17:44 WIB

WMO Peringatkan El Nino Berpotensi Picu Cuaca Ekstrem dan Kekeringan di Sejumlah Wilayah Indonesia

Senin, 25 Mei 2026 - 13:26 WIB

Ribuan Jemaah Haji dari AS dan Eropa Tetap Berdatangan ke Makkah, Tak Khawatir Situasi Perang

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:57 WIB

744 Personel TNI Tiga Matra Diberangkatkan Jalankan Misi Perdamaian UNIFIL di Lebanon

Kamis, 21 Mei 2026 - 01:27 WIB

Tingkatkan Profesionalisme Personel, Sat Lantas Polres Kerinci Gelar Latihan Simulasi  Olah TKP Laka Lantas

Rabu, 20 Mei 2026 - 13:42 WIB

Perang Modern Dipertontonkan Iran versus Amerika-Israel ” Masih Relevansi Pertahanan Rakyat Semesta Dan Perang Gerilya “

Berita Terbaru