Jakarta, jentik.id – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan akan menghancurkan setiap negara yang mengizinkan wilayahnya digunakan sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran sejumlah pengamat bahwa kawasan Teluk berpotensi menjadi medan konflik terbuka yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, serta negara-negara sekutunya.
Di tengah meningkatnya eskalasi, Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam serangan terbaru yang diklaim terjadi di wilayahnya.
Pemerintah Kuwait menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara.
“Kami mengecam agresi yang terjadi terhadap Negara Kuwait, yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan kami,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Kuwait yang dikutip dari AFP, Minggu (28/6/2026).
Kementerian menegaskan Kuwait memiliki hak penuh untuk mengambil seluruh langkah yang diperlukan guna menjaga kedaulatan, keamanan, stabilitas nasional, serta melindungi warga negara dan seluruh penduduk di wilayahnya.
Sebelumnya, IRGC mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain sebagai balasan atas serangan AS terhadap wilayah Iran.
Dalam pernyataannya, IRGC memperingatkan bahwa setiap agresi lanjutan akan dibalas dengan tindakan yang lebih keras.
Iran dan Amerika Serikat juga saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh. Situasi tersebut dinilai semakin memperumit upaya diplomatik yang tengah dilakukan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
IRGC mengklaim telah menghancurkan delapan fasilitas militer penting milik Amerika Serikat, termasuk di Pangkalan Udara Ali Al-Salem, Kuwait, serta Pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Pelabuhan Salman, Bahrain.
“Dalam serangan tersebut, delapan fasilitas militer penting Amerika Serikat berhasil dihancurkan,” demikian pernyataan IRGC.
Garda Revolusi Iran juga menegaskan bahwa setiap negara yang menyediakan fasilitas atau wilayahnya untuk digunakan dalam serangan terhadap Iran akan menjadi sasaran balasan.
“Setiap agresi musuh, dengan dalih apa pun, maupun negara yang menyediakan wilayahnya sebagai fasilitas untuk menyerang Republik Islam Iran, akan menghadapi respons yang menghancurkan,” tegas IRGC.(asy*).









