Teheran, jentik.id – Iran mulai membuka akses terbatas bagi kapal dari sejumlah negara untuk melintasi Selat Hormuz setelah sebelumnya membatasi lalu lintas di kawasan tersebut.
Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini menjadi jalur vital karena menyalurkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Meski tidak menutup jalur sepenuhnya, Iran kini menerapkan sistem verifikasi ketat. Otoritas setempat mewajibkan setiap kapal berkoordinasi dan mengantongi izin sebelum melintas.
Kebijakan ini langsung mengubah pola pelayaran. Jalur yang sebelumnya terbuka kini lebih terkendali dan sangat dipengaruhi hubungan diplomatik serta faktor keamanan.
Sejumlah Negara Masih Bisa Melintas
Beberapa negara tetap mengirim kapal melalui jalur ini. India menjadi salah satu yang masih aktif, terutama untuk pengangkutan LPG dan minyak mentah.
Selain itu, China juga mempertahankan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut. Kapal yang terafiliasi dengan perusahaan China bahkan menyumbang sekitar 10 persen dari total pergerakan yang masih berjalan.
Rusia juga memperoleh akses melintas. Hubungan erat antara Moskow dan Teheran memperlancar proses perizinan.
Sementara itu, Pakistan sempat menghadapi kendala karena belum memenuhi prosedur. Namun setelah memenuhi syarat teknis dan diplomasi, kapalnya kembali melintas.
Di kawasan Timur Tengah, Irak juga tetap mengirim kapal setelah melakukan koordinasi dengan Iran. Selain itu, kapal yang terafiliasi dengan Malaysia dan Yunani masih tercatat melintasi jalur tersebut.
Pemeriksaan Diperketat
Iran memperketat pemeriksaan kapal yang ingin melintas. Setiap kapal wajib memberikan data pelayaran lengkap dan mengikuti jalur resmi yang telah ditentukan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negara dengan hubungan baik akan mendapat prioritas akses.
Sebaliknya, Iran menolak kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel, menunjukkan kuatnya pengaruh geopolitik dalam kebijakan ini.
Lalu Lintas Kapal Turun Drastis
Pembatasan ini menekan volume pelayaran secara signifikan. Dalam kondisi normal, lebih dari 100 kapal melintas setiap hari. Namun kini jumlahnya turun tajam, bahkan hanya beberapa kapal per hari.
Sejak awal Maret, sekitar 142 kapal tercatat berhasil melintas—jumlah yang biasanya setara dengan aktivitas satu hari normal. Selain itu, sekitar 2.000 kapal sempat tertahan di kedua sisi selat sambil menunggu izin.
Dampak Global Mulai Terasa
Situasi ini mulai memengaruhi sektor energi dan logistik global. Risiko keamanan mendorong kenaikan premi asuransi kapal, sementara sejumlah perusahaan memilih jalur alternatif yang lebih jauh.
Akibatnya, biaya distribusi energi meningkat dan waktu pengiriman menjadi lebih lama. Di sisi lain, Iran juga mempertimbangkan penerapan biaya transit bagi kapal yang melintas.
Sebagai jalur utama perdagangan minyak dunia, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan harga energi, biaya transportasi, hingga harga barang.
Jika pembatasan ini berlangsung lama, para analis menilai peta distribusi energi global bisa berubah secara signifikan. (nr*)









