Moskow, jentik.id- Partai Rusia Bersatu (United Russia) yang berkuasa dan berafiliasi dengan Presiden Vladimir Putin meraih kemenangan telak dalam pemilu parlemen Rusia yang berlangsung pada 18–20 September 2026.
Berdasarkan hasil sementara yang dilaporkan media Rusia, setelah lebih dari 71 persen suara dihitung, Rusia Bersatu memperoleh 57,5 persen suara. Partai Komunis berada di posisi berikutnya dengan sekitar 14 persen, disusul Partai Liberal Demokrat Rusia (LDPR) dengan 8,7 persen.
Pemilu yang berlangsung selama tiga hari tersebut merupakan pemilihan parlemen pertama sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022.
Pemungutan suara juga digelar di wilayah Ukraina yang diduduki dan diklaim Rusia sebagai bagian dari wilayahnya, sebuah langkah yang dipersengketakan secara internasional.
Pemilu tersebut berlangsung di tengah keterbatasan terhadap kelompok oposisi. Partai Yabloko yang dikenal menentang perang di Ukraina dikeluarkan dari daftar peserta pemilu oleh Mahkamah Agung Rusia beberapa pekan sebelum pemungutan suara.
Dengan hasil sementara tersebut, Rusia Bersatu diproyeksikan mempertahankan mayoritas dua pertiga dari 450 kursi Duma Negara (State Duma), majelis rendah parlemen Rusia. Mayoritas dua pertiga memungkinkan parlemen mengesahkan perubahan konstitusi. Proyeksi tersebut disampaikan kantor berita negara Rusia, TASS.
Pelaksanaan pemilu kali ini juga diwarnai serangan siber terhadap infrastruktur pemungutan suara.
Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia, Ella Pamfilova, mengatakan pada hari terakhir pemungutan suara bahwa sistem pemilu menjadi sasaran serangkaian serangan siber.
Ia menyebut serangan tersebut dilakukan oleh kelompok yang dinilai sangat terorganisasi dan menggunakan perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI).
Namun, Pamfilova tidak menyebutkan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Pada hari terakhir pemungutan suara, wilayah Moskow dan sekitarnya juga menjadi sasaran gelombang serangan drone yang disebut pejabat Rusia sebagai salah satu serangan terbesar sejak perang Rusia-Ukraina dimulai.
Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan sekitar 1.600 drone diluncurkan dalam serangan tersebut, dengan sekitar 450 di antaranya diarahkan ke wilayah ibu kota Rusia.
Serangan itu menyebabkan korban jiwa dan memicu kebakaran di sebuah fasilitas pengolahan minyak.
Pemerintah Rusia menyatakan akan meningkatkan serangan terhadap Kyiv sebagai respons atas serangan drone tersebut. Kementerian Pertahanan Rusia menuduh serangan itu bertujuan mengganggu proses pemilu, sementara Ukraina menyatakan serangan tersebut memberikan dampak signifikan terhadap sejumlah sasaran di wilayah Moskow.
Hasil resmi dan data final tingkat partisipasi pemilih dijadwalkan diumumkan Komisi Pemilihan Umum Rusia setelah seluruh proses penghitungan suara selesai.(asy*).









