MANOKWARI, Jentik.id – Upaya mencegah perilaku berisiko yang dapat menjerumuskan generasi muda pada penularan HIV/AIDS kini membutuhkan pendekatan baru.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Barat mendorong penggunaan metode edukasi yang lebih kreatif, partisipatif, dan interaktif agar mampu menjangkau kalangan pelajar hingga mahasiswa, khususnya generasi Z.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Papua Barat, Frans Abidondifu, mengatakan pendekatan konvensional dinilai sudah tidak lagi efektif di tengah perubahan pola komunikasi generasi muda yang tumbuh dalam ekosistem digital.
“Edukasi harus dikemas menarik dan relevan dengan dunia generasi Z, sehingga dapat diterima dan mampu mencegah mereka terpapar HIV/AIDS,” ujarnya di
Menurutnya, berbagai momentum di lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, seperti masa pengenalan siswa baru, perayaan ulang tahun sekolah, hingga pembagian rapor.
Kegiatan tersebut dapat dikemas dalam bentuk sosialisasi interaktif, lomba kreatif, hingga pelibatan aktif pelajar dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Selain itu, ruang diskusi juga dibuka untuk memperkuat pemahaman siswa melalui materi yang relevan.
“Ada banyak momentum di sekolah yang bisa dimanfaatkan untuk menyosialisasikan pesan-pesan kesehatan bagi generasi muda, baik pelajar maupun mahasiswa,” kata Frans.
Ia menambahkan, pendekatan ini tidak hanya fokus pada aspek kesehatan semata, tetapi juga memperkuat literasi digital serta pemahaman kesehatan reproduksi.
Langkah tersebut dinilai penting untuk membentuk perilaku yang lebih sehat, sekaligus mendorong generasi muda agar lebih bijak dalam menggunakan media digital dan menghindari perilaku berisiko.
“Kita ingin upaya pencegahan ini menyentuh aspek kesehatan sekaligus perilaku sosial generasi muda,” tutupnya.(Red/*).









