WHO Turun Tangan! Wabah Ebola di DR Kongo Jadi Darurat Internasional

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 10:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang pekerja Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersiap untuk memberikan vaksinasi. Foto: Reuters/Kenny Katombe

Seorang pekerja Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersiap untuk memberikan vaksinasi. Foto: Reuters/Kenny Katombe

REPUBLIKA, jentik.id – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai darurat kesehatan internasional setelah virus menyebar cepat dan menewaskan puluhan orang.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) melaporkan hingga Sabtu (16/5/2026) terdapat 88 kematian dan 336 kasus suspek di berbagai wilayah terdampak.

WHO kemudian mengklasifikasikan wabah tersebut sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada Minggu (17/5/2026).

Wabah Menyebar Cepat di DR Kongo

Otoritas kesehatan menyebut virus Ebola yang menyebar di wilayah tersebut berasal dari strain Bundibugyo.

Baca Juga :  Wabah Demam Babi Landa Jepang, 3.000 Ekor Babi Dimusnahkan di Shizuoka

Pejabat kesehatan DR Kongo, Samuel-Roger Kamba, menyatakan situasi semakin sulit karena belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk strain tersebut.

Ia menegaskan tingkat kematian bisa mencapai 50 persen pada kasus yang terinfeksi.

Kondisi Lapangan Semakin Mengkhawatirkan

Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) melaporkan penyebaran wabah berlangsung cepat hingga lintas wilayah perbatasan.

MSF juga memperingatkan lonjakan kasus yang terjadi dalam waktu singkat membuat penanganan semakin berat.

Baca Juga :  Jangan Sepelekan! 5 Makanan Favorit Ini Ternyata Berbahaya untuk Ginjal

Wabah pertama terdeteksi di Provinsi Ituri, wilayah timur laut DR Kongo yang berbatasan dengan Uganda dan Sudan Selatan.

Awal Munculnya Kasus

Petugas kesehatan mencatat kasus pertama berasal dari seorang perawat yang datang ke fasilitas kesehatan di Kota Bunia pada 24 April 2026 dengan gejala mirip Ebola.

Gejala Ebola meliputi demam tinggi, muntah, pendarahan, hingga kegagalan organ.

Karena fasilitas isolasi terbatas, banyak pasien dirawat di rumah dan penanganan jenazah dilakukan oleh keluarga, yang ikut mempercepat risiko penularan. (nr*)

Berita Terkait

Seminar LONGEVITALOGY di Muaro Bungo 64 Peserta, Tekankan Welas Asih
Warga Diingatkan Bijak Gunakan Antibiotik Dan Antimikroba Untuk Cegah Krisis Kesehatan
Jangan Sepelekan! 5 Makanan Favorit Ini Ternyata Berbahaya untuk Ginjal
Alfin Hasil Musda VI PPNI Kota Sungai Penuh Perkuat Peran Perawat dalam Pelayanan Kesehatan
Pilih Konsumsi Cerdas Berkaitan Dengan Risiko Diabetes, Stroke, Jantung Dan Gagal Ginjal
Siapapun Penjabat Direktur RSUD MH Thalib, Bila Rotasi Menyeluruh Pegawai Terabaikan Potensi Gangguan Pelayanan Bakal Terulang
Banjir dan Tikus Picu Risiko Hantavirus, Kemenkes Beri Peringatan Keras
Jakarta Temukan 4 Kasus Hantavirus, Satu Pasien Kini Jalani Isolasi
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 10:15 WIB

WHO Turun Tangan! Wabah Ebola di DR Kongo Jadi Darurat Internasional

Minggu, 17 Mei 2026 - 22:01 WIB

Seminar LONGEVITALOGY di Muaro Bungo 64 Peserta, Tekankan Welas Asih

Minggu, 17 Mei 2026 - 07:44 WIB

Warga Diingatkan Bijak Gunakan Antibiotik Dan Antimikroba Untuk Cegah Krisis Kesehatan

Jumat, 15 Mei 2026 - 19:46 WIB

Jangan Sepelekan! 5 Makanan Favorit Ini Ternyata Berbahaya untuk Ginjal

Kamis, 14 Mei 2026 - 20:47 WIB

Alfin Hasil Musda VI PPNI Kota Sungai Penuh Perkuat Peran Perawat dalam Pelayanan Kesehatan

Berita Terbaru