REPUBLIKA, jentik.id – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai darurat kesehatan internasional setelah virus menyebar cepat dan menewaskan puluhan orang.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) melaporkan hingga Sabtu (16/5/2026) terdapat 88 kematian dan 336 kasus suspek di berbagai wilayah terdampak.
WHO kemudian mengklasifikasikan wabah tersebut sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada Minggu (17/5/2026).
Wabah Menyebar Cepat di DR Kongo
Otoritas kesehatan menyebut virus Ebola yang menyebar di wilayah tersebut berasal dari strain Bundibugyo.
Pejabat kesehatan DR Kongo, Samuel-Roger Kamba, menyatakan situasi semakin sulit karena belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk strain tersebut.
Ia menegaskan tingkat kematian bisa mencapai 50 persen pada kasus yang terinfeksi.
Kondisi Lapangan Semakin Mengkhawatirkan
Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) melaporkan penyebaran wabah berlangsung cepat hingga lintas wilayah perbatasan.
MSF juga memperingatkan lonjakan kasus yang terjadi dalam waktu singkat membuat penanganan semakin berat.
Wabah pertama terdeteksi di Provinsi Ituri, wilayah timur laut DR Kongo yang berbatasan dengan Uganda dan Sudan Selatan.
Awal Munculnya Kasus
Petugas kesehatan mencatat kasus pertama berasal dari seorang perawat yang datang ke fasilitas kesehatan di Kota Bunia pada 24 April 2026 dengan gejala mirip Ebola.
Gejala Ebola meliputi demam tinggi, muntah, pendarahan, hingga kegagalan organ.
Karena fasilitas isolasi terbatas, banyak pasien dirawat di rumah dan penanganan jenazah dilakukan oleh keluarga, yang ikut mempercepat risiko penularan. (nr*)









