TEHERAN, jentik.id – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat meski kedua negara masih menjalani negosiasi damai yang rapuh.
Pada Kamis (28/5/2026), serangan udara kembali terjadi di wilayah selatan Iran. Media setempat melaporkan tiga ledakan keras mengguncang kota pelabuhan Bandar Abbas pada dini hari, wilayah yang sebelumnya juga menjadi target serangan.
Militer AS mengklaim menembak jatuh empat drone Iran di sekitar Selat Hormuz. Seorang pejabat AS menyebut pasukan Komando Pusat juga menghancurkan stasiun kendali drone di Bandar Abbas yang diduga akan meluncurkan serangan tambahan.
Presiden AS Donald Trump menegaskan Iran masih ingin mencapai kesepakatan, namun prosesnya belum berjalan sesuai harapan Washington.
“Sejauh ini mereka belum sampai ke titik kesepakatan,” ujar Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih.
Trump juga menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka untuk semua pihak, meski ia mengeluarkan peringatan keras terkait keamanan jalur tersebut.
Di sisi lain, pejabat Garda Revolusi Iran menyatakan militer mereka tetap siaga penuh meski menilai kemungkinan perang masih rendah.
Iran kemudian mengklaim telah membalas serangan dengan menargetkan pangkalan militer AS yang disebut menjadi sumber serangan sebelumnya di sekitar Bandar Abbas. Namun, Iran tidak menyebutkan lokasi pasti pangkalan tersebut.
Ketegangan di kawasan ini juga mulai berdampak ke ekonomi global. Indonesia dan Thailand mulai meningkatkan penggunaan utang jangka pendek untuk menghadapi tekanan pasar akibat konflik.
Bank Indonesia memperbesar penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik modal asing dan menstabilkan rupiah. Sementara itu, Thailand mengandalkan surat utang jangka pendek untuk membiayai program darurat.
Analis menilai strategi tersebut memberi fleksibilitas pendanaan, namun meningkatkan risiko pembiayaan ulang di masa depan jika ketegangan global terus berlanjut. (nr*)









