JAKARTA, jentik.id – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling meluncurkan rudal dan drone pada Minggu (12/7/2026). Iran memperluas serangan ke sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk. Teheran juga kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia.
Eskalasi terbaru ini menjadi salah satu bentrokan terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Iran terus memperketat pengawasan di Selat Hormuz. Di sisi lain, militer AS meningkatkan operasi untuk menjaga jalur pelayaran internasional tetap terbuka.
Iran juga menyerang Qatar, negara yang selama ini berperan sebagai mediator gencatan senjata. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) mengaku berhasil mencegat rudal dan drone Iran melalui sistem pertahanan udaranya.
Sebagai balasan, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) kembali menyerang sejumlah target di Iran pada Minggu sore waktu setempat.
CENTCOM menjelaskan operasi itu bertujuan mengurangi kemampuan Iran untuk mengancam kapal sipil dan kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menegaskan operasi militer masih berlangsung. Dalam wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan pasukan AS terus menekan Iran.
Bandar Abbas Diguncang Ledakan
Media Iran melaporkan rudal menghantam kawasan Bandar Abbas, pelabuhan strategis yang menjadi pusat aktivitas militer Iran di dekat Selat Hormuz. Ledakan juga terdengar hingga Pulau Qeshm.
Konflik yang terus meningkat memperkecil peluang tercapainya kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran. Sebelumnya, kedua negara sempat menyepakati pembukaan kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan damai selama 60 hari.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump menyatakan gencatan senjata praktis telah berakhir. Meski begitu, ia masih membuka peluang untuk melanjutkan jalur diplomasi.
Serangan udara gabungan AS dan Israel pada Februari lalu memicu konflik yang terus meluas. Ketegangan itu kini mengganggu distribusi minyak dan gas serta mendorong kenaikan harga energi dunia.
Iran Perketat Pengawasan Selat Hormuz
Sebelum perang pecah, sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz.
Kini Iran mewajibkan seluruh kapal memperoleh izin sebelum melintasi jalur tersebut. Langkah itu memperketat pengawasan di kawasan strategis tersebut.
Pada Sabtu malam, Iran menutup Selat Hormuz setelah melepaskan tembakan peringatan ke kapal yang disebut melintas tanpa izin. Sehari kemudian, Teheran kembali mengklaim berhasil menghentikan kapal lain.
Situasi keamanan yang memburuk mendorong Qatar meminta seluruh kapal, termasuk kapal wisata dan kapal nelayan, menghentikan aktivitas pelayaran sementara waktu.
Otoritas Selat Teluk Persia bentukan Iran juga menyatakan lalu lintas di Selat Hormuz belum bisa berlangsung hingga kondisi kembali aman.
AS Tegaskan Hormuz Tetap Terbuka
Pemerintah AS menolak klaim Iran yang menyebut Teheran menguasai Selat Hormuz.
Washington menegaskan pasukannya tetap menjaga kebebasan navigasi internasional. Pemerintah AS juga memastikan kapal masih dapat melintasi rute alternatif di dekat Oman.
CENTCOM mengungkapkan pasukannya menyerang ratusan target militer Iran dalam beberapa hari terakhir. Operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal sipil dan kapal dagang.
Media Iran juga melaporkan ledakan di sejumlah kota pelabuhan. Selain itu, seorang perwira militer Iran dilaporkan tewas.
Iran Balas Serang Basis Militer AS
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Iran mengklaim berhasil menghantam pusat komando, hanggar drone, radar militer, fasilitas logistik, hingga lokasi pendukung kapal induk AS di Yordania, Kuwait, Oman, dan Qatar.
Qatar melaporkan tiga orang mengalami luka akibat serpihan proyektil. Pemerintah Qatar kemudian menyatakan Iran harus bertanggung jawab penuh atas serangan tersebut.
Bahrain mengaku berhasil mencegat sejumlah rudal Iran. Sementara itu, Yordania dan Oman juga melaporkan serangan rudal maupun drone di wilayah mereka.
Di tengah meningkatnya ketegangan, pejabat senior Iran Mohammad Baqer Qalibaf kembali memperingatkan Washington. Ia meminta AS memenuhi komitmen yang pernah disepakati. Qalibaf juga menegaskan Iran siap menghadapi konsekuensi jika konflik terus berlanjut. (nr*)









