Jakarta.jentik.id – Kegagalan tim bulu tangkis putra Indonesia di ajang Piala Thomas 2026 di Denmark menjadi sorotan serius dan harus segera dievaluasi oleh PP PBSI.
Tim Merah Putih harus menerima kenyataan pahit tersingkir di fase grup setelah kalah 1-4 dari Prancis pada laga penentuan Grup D yang berlangsung di Forum Horsens.
Pengamat olahraga Mohamad Kusnaeni menilai kegagalan ini bukan sekadar hasil buruk biasa, melainkan sinyal kuat adanya pergeseran peta kekuatan bulu tangkis dunia.
“Ini harus dimaknai serius karena menjadi pertanda bahwa dominasi Indonesia di bulu tangkis mulai tergerus,” ujarnya di Jakarta, Rabu (29/4)
Menurutnya, tersingkirnya Indonesia di fase grup merupakan tragedi tersendiri. Sepanjang sejarah Piala Thomas, Indonesia dikenal sebagai raksasa dengan koleksi 14 gelar juara dan dalam tiga edisi terakhir selalu mencapai final.
“Padahal, Indonesia datang ke Denmark dengan skuad terbaik yang dimiliki, baik di sektor tunggal maupun ganda. Dari sisi strategi dan komposisi pemain, Kusnaeni menilai tidak ada kesalahan berarti.
Namun, ia menyoroti performa individu para pemain yang tidak mampu tampil maksimal. Hal ini sudah terlihat sejak kemenangan tipis 3-2 atas Thailand.
Kekalahan di luar dugaan dialami Alwi Farhan dari Panitchaphon Teeraratsakul, serta performa kurang meyakinkan dari Jonatan Christie yang kalah dari Kunlavut Vitidsarn dan Christo Popov.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah utama ada pada performa pemain di lapangan, bukan strategi,” katanya.
Lebih lanjut, Kusnaeni menilai Indonesia kini bukan lagi negara yang superior di cabang olahraga bulu tangkis. Hal itu tercermin dari kekalahan telak dari Prancis serta kemenangan tipis atas Thailand, bahkan sebelum menghadapi negara kuat seperti China, Korea Selatan, atau Denmark.
Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh oleh PBSI, termasuk keberanian melakukan regenerasi pemain. Nama-nama muda seperti Ubaidillah dan pasangan Indra/Joaquin dinilai layak mendapat kesempatan.
Menurutnya, bulu tangkis Indonesia berpotensi memasuki fase transisi dalam satu hingga dua tahun ke depan, seiring mulai menurunnya performa generasi senior seperti Anthony Sinisuka Ginting serta pasangan Sabar Karyaman Gutama / Moh Reza Pahlevi Isfahani.
“Regenerasi memang tidak selalu langsung menghasilkan prestasi, tetapi ini langkah penting untuk masa depan. Negara lain seperti Korea Selatan, Malaysia, dan China sudah lebih dulu melakukannya dan mulai menuai hasil,” tegasnya.(asy*)









