WALHI Laporkan Gubernur Sumbar hingga Polda Terkait Dugaan Pembiaran PETI

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 14 Juni 2026 - 20:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Tommy Adam, bersama sejumlah stakeholder terkait saat menyampaikan permasalahan PETI di Jakarta beberapa waktu lalu. Walhi Sumbar menyebut sekitar 10 ribu hektare lahan sudah rusak karena aktivitas PETI, oleh karena itu Walhi melaporkan Gubernur, Kapolda hingga sejumlah Kepala Daerah di Sumbar atas dugaan pembiaran.

Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Tommy Adam, bersama sejumlah stakeholder terkait saat menyampaikan permasalahan PETI di Jakarta beberapa waktu lalu. Walhi Sumbar menyebut sekitar 10 ribu hektare lahan sudah rusak karena aktivitas PETI, oleh karena itu Walhi melaporkan Gubernur, Kapolda hingga sejumlah Kepala Daerah di Sumbar atas dugaan pembiaran.

PADANG, jentik.id – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat melaporkan Gubernur Sumbar, sembilan kepala daerah, dan Polda Sumbar ke sejumlah instansi pemerintah pusat terkait dugaan pembiaran aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Direktur Eksekutif WALHI Sumbar, Tommy Adam, menyebut langkah tersebut sebagai bentuk keprihatinan atas semakin luasnya kerusakan lingkungan akibat tambang ilegal di berbagai daerah di Sumatera Barat.

Menurut Tommy, WALHI menyampaikan laporan secara bertahap ke sejumlah lembaga negara. Pada 9 Juni 2026, WALHI melapor ke Polri. Kemudian pada 10 Juni, WALHI menyampaikan laporan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Dalam Negeri.

Selanjutnya, pada 11 Juni 2026, WALHI mengirim laporan ke Kementerian ESDM, Kementerian Kehutanan, dan Komnas HAM.

PETI Marak di Sembilan Daerah

Tommy mengatakan aktivitas PETI berlangsung di sedikitnya sembilan kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Daerah tersebut meliputi Sawahlunto, Pasaman Barat, Pasaman, Solok Selatan, Solok, Sijunjung, Dharmasraya, Lima Puluh Kota, dan Pesisir Selatan.

Ia menilai aktivitas tambang ilegal berlangsung secara terbuka dan mudah ditemukan. Bahkan, para pelaku menjalankan aktivitas tersebut di dekat jalan umum dan permukiman warga.

Baca Juga :  Gudang Penimbunan Biosolar di Padang Digerebek, Polisi Sita 1.350 Liter BBM Subsidi

Tommy mencontohkan aktivitas PETI di Kabupaten Sijunjung yang berlangsung tidak jauh dari pusat pemerintahan daerah dan terlihat jelas dari jalan yang dilalui masyarakat.

Rusak Hutan dan Daerah Aliran Sungai

Berdasarkan hasil observasi WALHI Sumbar, para pelaku menjalankan sebagian besar aktivitas PETI di kawasan hutan dan daerah aliran sungai (DAS).

Tommy menyebut aktivitas tersebut merusak lebih dari 10 ribu hektare kawasan hutan dan lahan. Selain itu, PETI memicu deforestasi, merusak wilayah hulu, dan mencemari sejumlah DAS penting di Sumatera Barat.

Beberapa DAS yang terdampak antara lain DAS Indragiri, Kampar, Batanghari, Pasaman, dan Batahan.

Menurut WALHI, kerusakan lingkungan tidak hanya memengaruhi masyarakat Sumatera Barat. Kerusakan DAS juga berdampak pada wilayah hilir di Provinsi Riau dan Jambi.

WALHI bahkan mengungkap sejumlah penelitian yang menunjukkan kadar merkuri di aliran DAS Batanghari melampaui ambang batas yang ditetapkan.

Tingkatkan Risiko Bencana dan Korban Jiwa

WALHI menilai aktivitas PETI turut meningkatkan risiko bencana ekologis seperti banjir dan longsor.

Baca Juga :  Polda Sulsel Tindak Tegas, Kasat Narkoba Toraja Utara Jalani Patsus

Kerusakan kawasan hutan dan daerah tangkapan air memperbesar ancaman bencana yang berdampak langsung pada masyarakat.

Selain itu, WALHI mencatat lebih dari 50 orang meninggal dunia akibat aktivitas PETI hingga Juni 2026. Berbagai kecelakaan tambang dan insiden terkait pertambangan ilegal menyebabkan korban jiwa tersebut.

Desak Penindakan Pemodal Tambang Ilegal

WALHI juga menyoroti lemahnya penegakan hukum terhadap aktivitas PETI. Karena itu, organisasi tersebut melaporkan dugaan pembiaran dan keterlibatan Polda Sumbar kepada Kapolri untuk ditindaklanjuti.

Selain aparat penegak hukum, WALHI juga mengkritik pemerintah daerah yang belum serius menangani persoalan tambang ilegal.

Tommy menegaskan negara memiliki kewajiban melindungi hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Karena itu, WALHI mendesak aparat tidak hanya menangkap pelaku di lapangan, tetapi juga mengungkap para pemodal, pembeking, penadah, dan pihak lain yang menikmati keuntungan dari aktivitas PETI.

WALHI juga meminta pemerintah daerah menerapkan tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas di Sumatera Barat. (nr*)

Berita Terkait

KPK Cegah Ahmad Dedi alias Dedi Congor ke Luar Negeri dalam Kasus Bea Cukai
Kapolda Jambi Instruksikan Seluruh Kapolres Petakan Wilayah Rawan PETI
Ibu Kandung Ditemukan Meninggal, Anak yang Berstatus Polisi Kini Ditahan
Ladang Ganja Seluas 18 Hektare Terungkap di Aceh Utara, BNN Amankan Empat Orang
TNI AL Bongkar Aksi Penyelundupan Emas Rp2,9 Miliar, Petugas Temukan 3 Benda Mencurigakan
Polisi Bongkar 3 Kasus Solar Subsidi di Padang, Puluhan Jeriken Jadi Barang Bukti!
Polda Jambi Ungkap 32 Kasus PETI, 71 Tersangka Diamankan dan 3,5 Kilogram Emas Disita
Bangkai Kapal Wisata Kerinci Sakti Senilai Rp1,2 Miliar Kembali Muncul, Baru Sepekan Berlayar Sudah Rusak
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:39 WIB

KPK Cegah Ahmad Dedi alias Dedi Congor ke Luar Negeri dalam Kasus Bea Cukai

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:40 WIB

Kapolda Jambi Instruksikan Seluruh Kapolres Petakan Wilayah Rawan PETI

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:27 WIB

Ibu Kandung Ditemukan Meninggal, Anak yang Berstatus Polisi Kini Ditahan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:27 WIB

Ladang Ganja Seluas 18 Hektare Terungkap di Aceh Utara, BNN Amankan Empat Orang

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:53 WIB

TNI AL Bongkar Aksi Penyelundupan Emas Rp2,9 Miliar, Petugas Temukan 3 Benda Mencurigakan

Berita Terbaru