Jakarta,jentik.id– Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Kholid menilai gejolak nilai tukar rupiah dan tekanan di pasar keuangan saat ini tidak cukup direspons hanya melalui kebijakan teknis moneter.
Menurutnya, kunci utama menjaga stabilitas ekonomi terletak pada kemampuan pemerintah dan otoritas ekonomi membangun kepercayaan pasar.
Legislator Fraksi PKS itu menjelaskan, pola pembacaan investor terhadap kondisi ekonomi global kini telah berubah. Jika sebelumnya pasar lebih banyak mengacu pada data historis, saat ini pelaku pasar lebih fokus membaca potensi risiko masa depan serta arah kebijakan pemerintah.
“Perlu ada strategic management ekspektasi. Bagaimana mengelola ekspektasi itu strategis. Jadi bukan hanya kebijakan teknis moneter, tapi manajemen ekspektasinya harus diperkuat,” ujar Kholid dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Menurutnya, pasar keuangan bergerak sangat cepat dan sensitif terhadap persepsi. Karena itu, komunikasi yang konsisten antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan otoritas fiskal menjadi faktor penting agar pelaku pasar tidak membangun kekhawatiran berlebihan terhadap kondisi ekonomi nasional.
Kholid menegaskan, respons otoritas tidak cukup hanya berupa intervensi teknis di pasar keuangan. Ia menyinggung teori rational expectation yang diperkenalkan ekonom Robert Lucas untuk menggambarkan cara pasar bekerja saat ini.
Menurutnya, investor, hedge fund, hingga pelaku industri kini melakukan penilaian berdasarkan proyeksi risiko masa depan sebelum mengambil keputusan investasi.
“Bahwa pelaku pasar, investor, hedge fund, industri, mereka itu membuat pricing yang rational. Bukan data kemarin, bukan data hari ini, tapi pricing futurist. Jadi risiko-risiko di masa depan itu dipricing oleh market dan ditarik pada hari ini,” tegasnya.
Ia juga menilai tantangan terbesar pemerintah saat ini bukan hanya menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga mematahkan persepsi bahwa Indonesia sedang menuju situasi krisis seperti tahun 1998.
Menurut Kholid, trauma kolektif terhadap krisis ekonomi masa lalu masih memengaruhi cara publik dan pasar membaca kondisi ekonomi saat ini.
“Message-nya harus loud and clear, harus konsisten. Kalau otoritas itu kompak, otoritas moneter, industri jasa keuangan, kementerian keuangan, dan diikuti kebijakan yang konsisten, itu memberikan sinyal bahwa kondisi hari ini berbeda dengan 1998,” pungkasnya.(asy*)









