Lalu Lintas Data Indonesia Didominasi Singapura, Ketergantungan Picu Risiko Konektivitas

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 19:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekitar 143 titik pendaratan kabel (landing points) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, hampir seluruh jaringan kabel internasional tersebut terhubung ke Singapura, Menyebabkan lalu lintas data Indonesia sangat bergantung pada negara tersebut sebagai pintu masuk menuju jaringan internet global.

Sekitar 143 titik pendaratan kabel (landing points) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, hampir seluruh jaringan kabel internasional tersebut terhubung ke Singapura, Menyebabkan lalu lintas data Indonesia sangat bergantung pada negara tersebut sebagai pintu masuk menuju jaringan internet global.

Jakarta, jentik.id – Singapura masih menjadi pusat lalu lintas data dan layanan komputasi awan (cloud) utama di kawasan Asia Tenggara.

Posisi strategis tersebut semakin mengukuhkan negara-kota itu sebagai gerbang utama akses internet global bagi Indonesia.

Laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat perusahaan teknologi raksasa seperti Amazon Web Services (AWS), Google, Microsoft, dan Meta merupakan investor aktif dalam berbagai sistem kabel bawah laut yang terhubung ke Singapura.

Keberadaan infrastruktur tersebut menjadikan Singapura sebagai pusat pergerakan data regional.

Berdasarkan data GeoCables per April 2026, Indonesia memiliki 72 sistem kabel bawah laut yang terdiri dari 42 kabel domestik dan 30 kabel internasional.

Selain itu, terdapat sekitar 143 titik pendaratan kabel (landing points) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Meski demikian, hampir seluruh jaringan kabel internasional tersebut terhubung ke Singapura.

Kondisi ini menyebabkan lalu lintas data Indonesia sangat bergantung pada negara tersebut sebagai pintu masuk menuju jaringan internet global.
0
Menurut laporan CSIS tahun 2025, dominasi Singapura dalam lalu lintas data internasional memiliki akar sejarah yang panjang. Sejak akhir abad ke-19, Singapura telah menjadi titik persinggahan utama jaringan kabel telegraf bawah laut yang menghubungkan Australia, Hong Kong, dan India.

Baca Juga :  Ditreskrimsus Polda Kepri Bongkar Jaringan Penyelundupan BBL Internasional Senilai Rp10 Miliar

Perkembangan infrastruktur komunikasi yang berlangsung lebih dari satu abad itu menjadi fondasi kuat bagi Singapura untuk berkembang sebagai hub internet regional hingga saat ini.

Muhamad Erza Aminanto, Asisten Profesor sekaligus Koordinator Program Keamanan Siber Monash University Indonesia, menilai dominasi Singapura merupakan sebuah keniscayaan dari sisi geografis maupun bisnis.

“Karena secara geografis Indonesia, terutama Jakarta, sangat dekat dengan Singapura. Dari perspektif perusahaan yang membangun kabel serat optik bawah laut, ketika ingin menjangkau Jakarta, sekalian saja terhubung ke Singapura karena negara itu sudah menjadi hub internet global,” ujar Erza kepada CNA Indonesia.

Namun, ketergantungan terhadap Singapura dalam lalu lintas data internasional dinilai bukan tanpa risiko. Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif Angga, mengingatkan adanya potensi gangguan yang dapat memengaruhi konektivitas internet nasional.

Menurut Arif, faktor geopolitik menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai. Laporan CSIS mencatat sejumlah proyek kabel bawah laut yang semula direncanakan melintasi Laut China Selatan akhirnya dialihkan melalui Indonesia untuk menghindari kawasan yang dianggap sensitif secara geopolitik.

“Bukan hanya risiko faktor geopolitik, tetapi juga jika terjadi bencana alam di koridor laut menuju Singapura, kabel dapat putus dan secara otomatis saluran internet Indonesia ikut terdampak,” katanya.

Baca Juga :  Polda Jambi Gagalkan Peredaran 20 Kilogram Sabu, 12 Ribu Lebih Pil Ekstasi Dan Cartridge Cairan Etomidate

Kerusakan kabel bawah laut juga dapat disebabkan oleh aktivitas pelayaran, jangkar kapal, maupun kegiatan penangkapan ikan.

Berdasarkan laporan Komite Perlindungan Kabel Internasional (International Cable Protection Committee/ICPC), setiap tahun terjadi sekitar 150 hingga 200 insiden kerusakan kabel bawah laut di seluruh dunia atau rata-rata tiga kasus setiap pekan.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, pemerintah Indonesia terus melakukan diversifikasi konektivitas internasional.

Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah peresmian jalur konektivitas baru di Papua pada Mei 2026.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), , menjelaskan bahwa Papua kini memiliki dua jalur konektivitas internasional yang berbeda.

Jalur pertama terhubung melalui jaringan Sulawesi-Maluku-Papua, sedangkan jalur kedua menghubungkan Vanimo di menuju Jayapura, kemudian tersambung ke Manado hingga Los Angeles di .

“Dengan hadirnya kabel laut ini, Papua memiliki dua kaki konektivitas internasional yang mandiri sehingga mampu membuka peluang baru dan mempercepat transformasi digital di berbagai sektor kehidupan masyarakat,” ujar Angga.

Langkah diversifikasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketahanan infrastruktur digital nasional sekaligus mengurangi risiko gangguan konektivitas akibat ketergantungan pada satu jalur utama.(asy*).

Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 19:48 WIB

Lalu Lintas Data Indonesia Didominasi Singapura, Ketergantungan Picu Risiko Konektivitas

Berita Terbaru