Rupiah Kian Tertekan! Geopolitik Memanas dan Subsidi Energi Jadi Pemic

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 09:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

JAKARTA, jentik.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terbaru. Data Bloomberg pukul 13.11 WIB mencatat rupiah berada di level Rp 17.601 per dolar AS, turun 72 poin atau 0,41 persen.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah terjadi karena kombinasi faktor eksternal dan internal. Ia menyebut ketegangan geopolitik global dan beban subsidi energi dalam negeri memberi tekanan besar pada mata uang Indonesia.

Geopolitik Dorong Penguatan Dolar

Ibrahim menjelaskan konflik di kawasan Selat Hormuz ikut memicu kekhawatiran pasar. Kondisi itu mendorong harga minyak naik dan memperkuat dolar AS.

Ia mengatakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Situasi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.

“Sentimen geopolitik membuat dolar menguat dan rupiah melemah,” ujarnya.

Ibrahim juga memperkirakan rupiah bisa menembus level Rp 18.000 pada Mei jika tekanan berlanjut. Bahkan, ia membuka peluang pelemahan lebih dalam jika kondisi global tidak stabil.

Baca Juga :  Harga BBM Bakal Naik? Ini Alasan Pemerintah Sulit Menahannya

Beban Subsidi Energi Tekan Rupiah

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti besarnya impor minyak Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Ia menyebut sebagian besar impor itu digunakan untuk subsidi BBM.

Menurutnya, kebutuhan dolar untuk impor energi membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar.

“Subsidi energi yang besar ikut menambah tekanan pada mata uang,” kata Ibrahim.

Ia menilai kondisi ini menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah selain faktor global.

BI Dinilai Masih Terbatas Menahan Tekanan

Ibrahim juga menilai intervensi Bank Indonesia di pasar belum cukup kuat menahan tekanan eksternal. Meski begitu, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup stabil karena kepemilikan obligasi didominasi investor domestik.

Ia memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Juni 2026. Kenaikan bisa berada di kisaran 25 hingga 50 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah.

Baca Juga :  Utang Pemerintah Tembus Rp10.293 Triliun, Naik Rp373 Triliun dalam 3 Bulan

Faktor Global Masih Dominan

Pengamat pasar uang dari PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, juga melihat tekanan pada rupiah masih kuat dari faktor global.

Ia menyebut ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta data ekonomi Amerika Serikat yang masih kuat ikut menekan mata uang negara lain.

Ariston menilai data penjualan ritel AS yang naik memperkuat posisi dolar. Kondisi itu membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.

“Indeks dolar menguat dan menekan banyak mata uang,” kata Ariston.

Rupiah masih berada di bawah tekanan akibat kombinasi faktor global seperti geopolitik dan penguatan dolar AS, serta faktor domestik seperti beban impor energi dan subsidi. Pelaku pasar kini menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar ke depan. (nr*)

Berita Terkait

Gran Max Pick Up Geser Kijang Innova Terlaris.
Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport Kurang Diminati Konsumen  Tinggi biaya Operadi Di Harga BBM Diesel.
IWAPI Kota Sungai Penuh Resmi Dilantik, Wawako Azhar Hamzah Dorong Perempuan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Harga Minyak Mentah Melonjak 7 Persen, Brent Tembus USD 100 per Barel
Kopi Jambi Go Global! Kerja Sama dengan Pakistan Targetkan Nilai Perdagangan Rp18 Miliar
Siloam Kucurkan Rp1 Triliun untuk Teknologi Bedah Robotik, Siap Saingi Rumah Sakit Luar Negeri
Pemkot Sungai Penuh Gandeng BNI, Percepat Transformasi Digital dan Smart City
Adik Jusuf Kalla Alihkan Saham Bukaka Rp195 Miliar ke Dua Putrinya, Struktur Kepemilikan BUKK Berubah
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:52 WIB

Gran Max Pick Up Geser Kijang Innova Terlaris.

Kamis, 13 Agustus 2026 - 23:14 WIB

Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport Kurang Diminati Konsumen  Tinggi biaya Operadi Di Harga BBM Diesel.

Selasa, 4 Agustus 2026 - 17:11 WIB

IWAPI Kota Sungai Penuh Resmi Dilantik, Wawako Azhar Hamzah Dorong Perempuan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:33 WIB

Harga Minyak Mentah Melonjak 7 Persen, Brent Tembus USD 100 per Barel

Senin, 20 Juli 2026 - 10:44 WIB

Kopi Jambi Go Global! Kerja Sama dengan Pakistan Targetkan Nilai Perdagangan Rp18 Miliar

Berita Terbaru