Mobil Listrik Masuk Tahun Pembuktian, Tanpa Insentif Masih Bisa Melaju?

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasar mobil listrik di Indonesia memasuki fase paling menentukan pada tahun ini. Setelah mencatat lonjakan penjualan hampir 140 persen pada tahun lalu, kendaraan listrik kini menghadapi ujian baru, yakni apakah konsumen tetap berminat membeli ketika sejumlah insentif pemerintah mulai dikurangi atau dihentikan.

Pasar mobil listrik di Indonesia memasuki fase paling menentukan pada tahun ini. Setelah mencatat lonjakan penjualan hampir 140 persen pada tahun lalu, kendaraan listrik kini menghadapi ujian baru, yakni apakah konsumen tetap berminat membeli ketika sejumlah insentif pemerintah mulai dikurangi atau dihentikan.

Jakarta, jentik.id — Pasar mobil listrik di Indonesia memasuki fase paling menentukan pada tahun ini. Setelah mencatat lonjakan penjualan hampir 140 persen pada tahun lalu, kendaraan listrik kini menghadapi ujian baru, yakni apakah konsumen tetap berminat membeli ketika sejumlah insentif pemerintah mulai dikurangi atau dihentikan.

Situasi ini menjadi perhatian karena pertumbuhan mobil listrik justru terjadi di tengah pasar otomotif nasional yang masih berada dalam tekanan daya beli masyarakat.
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, mengatakan kendaraan listrik berkembang pesat sejak 2019 dan semakin melonjak ketika pemerintah memberikan berbagai insentif.

“Tahun ini menjadi ajang pembuktian apakah penjualan mobil listrik akan terus berkelanjutan setelah pengurangan insentif pemerintah,” ujar Kukuh dalam serial podcast PIER to Peers Permata Bank yang dipandu Chief Economist Permata Bank,

Menurut Kukuh, kuatnya pertumbuhan mobil listrik di tengah melemahnya daya beli menunjukkan adanya potensi besar pasar kendaraan ramah lingkungan. Namun, kondisi tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai daya tahan permintaan ketika dukungan harga dari pemerintah mulai berkurang.

Sementara itu, Josua Pardede menjelaskan sektor otomotif nasional masih menghadapi tekanan cukup besar.

Penjualan mobil yang sebelumnya mampu mencapai sekitar 1 juta unit per tahun, turun sekitar 7 persen menjadi 803 ribu unit. Segmen mobil penumpang bahkan terkoreksi lebih dalam hingga 8,9 persen, sedangkan kendaraan niaga melemah sekitar 1 persen.

Baca Juga :  Toyota Avanza 2026 Resmi Hadir di Indonesia, MPV Keluarga Semakin Modern dengan Harga Mulai Rp243 Juta

Menurutnya, tekanan daya beli membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan baru. Sebagian konsumen memilih menunda pembelian, sementara lainnya beralih ke mobil bekas yang dinilai lebih terjangkau.

Menurut Kukuh, penurunan penjualan kendaraan tidak hanya berdampak pada produsen mobil, tetapi juga dapat memukul industri komponen, jaringan dealer, lembaga pembiayaan, hingga tenaga kerja sektor manufaktur.

Selain faktor harga, penggunaan mobil listrik juga dinilai belum sepenuhnya menjadi pilihan utama masyarakat. Banyak pemilik kendaraan listrik masih mempertahankan mobil konvensional untuk perjalanan jarak jauh, termasuk mudik dan perjalanan antar kota.

Di Jakarta, sebagian pengguna juga memanfaatkan mobil listrik karena keuntungan mobilitas seperti bebas dari aturan ganjil-genap.
Kendala lain yang masih dihadapi adalah keterbatasan infrastruktur pengisian daya dan waktu pengisian baterai yang dinilai belum sepraktis pengisian bahan bakar konvensional. Di luar kota besar, stasiun pengisian kendaraan listrik umum juga belum tersebar merata.

“Sementara joasuo mengemukakan Penjualan mobil baru melemah, sementara pasar mobil bekas justru meningkat,” kata Josua.

Baca Juga :  MTI Usul Insentif Motor Listrik Diprioritaskan untuk Daerah Keterbatas BBM Dan Terpencil

Di tengah tekanan tersebut, kendaraan listrik justru menjadi penopang pertumbuhan industri otomotif. Penjualannya melonjak hampir 140 persen sepanjang tahun lalu dan berhasil meningkatkan pangsa kendaraan ramah lingkungan menjadi sekitar 13 persen dari total pasar otomotif nasional.
Pertumbuhan paling tinggi terjadi pada segmen mobil listrik dengan harga Rp400 juta hingga Rp500 juta. Kondisi ini menunjukkan mayoritas pembeli berasal dari kelompok masyarakat menengah ke atas yang daya belinya relatif masih kuat.

Selain itu, hadirnya mobil listrik dengan rentang harga Rp200 juta hingga Rp300 juta turut memperluas pasar dan menjadi tantangan baru bagi kendaraan konvensional.

“Data ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pembelinya adalah masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. Artinya daya belinya sebenarnya cukup resilien,” ujar Josua.

Meski demikian, harga tetap menjadi faktor penentu utama bagi konsumen. Selain membandingkan teknologi, masyarakat juga memperhitungkan harga awal kendaraan, biaya operasional, kemudahan pengisian daya, hingga nilai jual kembali.

Dalam kondisi tersebut, insentif pemerintah selama ini berperan besar membuat harga mobil listrik lebih kompetitif dibanding kendaraan berbahan bakar konvensional. Namun, berkurangnya sejumlah insentif pada tahun ini berpotensi mengubah konfigurasi pasar.(asy*).

 

Berita Terkait

Gran Max Pick Up Geser Kijang Innova Terlaris.
Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport Kurang Diminati Konsumen  Tinggi biaya Operadi Di Harga BBM Diesel.
IWAPI Kota Sungai Penuh Resmi Dilantik, Wawako Azhar Hamzah Dorong Perempuan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Harga Minyak Mentah Melonjak 7 Persen, Brent Tembus USD 100 per Barel
Kopi Jambi Go Global! Kerja Sama dengan Pakistan Targetkan Nilai Perdagangan Rp18 Miliar
Siloam Kucurkan Rp1 Triliun untuk Teknologi Bedah Robotik, Siap Saingi Rumah Sakit Luar Negeri
Pemkot Sungai Penuh Gandeng BNI, Percepat Transformasi Digital dan Smart City
Adik Jusuf Kalla Alihkan Saham Bukaka Rp195 Miliar ke Dua Putrinya, Struktur Kepemilikan BUKK Berubah
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:52 WIB

Gran Max Pick Up Geser Kijang Innova Terlaris.

Kamis, 13 Agustus 2026 - 23:14 WIB

Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport Kurang Diminati Konsumen  Tinggi biaya Operadi Di Harga BBM Diesel.

Selasa, 4 Agustus 2026 - 17:11 WIB

IWAPI Kota Sungai Penuh Resmi Dilantik, Wawako Azhar Hamzah Dorong Perempuan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:33 WIB

Harga Minyak Mentah Melonjak 7 Persen, Brent Tembus USD 100 per Barel

Senin, 20 Juli 2026 - 10:44 WIB

Kopi Jambi Go Global! Kerja Sama dengan Pakistan Targetkan Nilai Perdagangan Rp18 Miliar

Berita Terbaru

Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi. Lahirlah atlet tembak nasional

Sport

TNI AU Gelar Kompotisi Tembak Di Ikuti 800 Peserta 

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:36 WIB