WASHINGTON, jentik.id – Sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) mendorong kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi di Amerika Serikat (AS). Mereka akan membahas usulan tersebut dalam rapat kebijakan moneter berikutnya.
Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menilai inflasi masih berada di atas target. Menurutnya, pasar tenaga kerja juga sudah mendekati kondisi lapangan kerja maksimum.
Hammack mengaku menerima banyak masukan dari pelaku usaha. Mereka meminta bank sentral bertindak lebih tegas mengendalikan inflasi. Selain itu, ia melihat semakin banyak masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Ia memperkirakan inflasi inti berdasarkan Core Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index mencapai 3,3 persen pada Juni.
Pejabat The Fed Kompak Soroti Inflasi
Hammack menilai risiko inflasi masih tinggi. Karena itu, ia kembali mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat.
Sebelumnya, ia juga menyampaikan perbedaan pendapat dalam rapat April. Saat itu, ia menganggap kebijakan moneter masih terlalu longgar.
Pandangan serupa disampaikan Presiden The Dallas Fed, Lorie Logan. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini memerlukan kenaikan suku bunga secara bertahap.
Selanjutnya, Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson meminta bank sentral mengevaluasi kebijakan moneter jika inflasi belum juga melambat.
Para pejabat The Fed juga menyoroti kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Selain itu, mereka menilai pembangunan pusat data AI ikut menambah tekanan inflasi.
Pasar Tunggu Keputusan September
Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai 15 persen pada rapat Juli. Sementara itu, peluang untuk rapat September naik menjadi sekitar 65 persen.
Analis Evercore ISI, Krishna Guha, menilai para pejabat The Fed mulai menyampaikan pesan yang sejalan. Mereka ingin bank sentral mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada September. Langkah itu bisa diambil jika inflasi tetap tinggi atau harga minyak terus meningkat.
Namun, Presiden The New York Fed, John Williams, memiliki pandangan berbeda. Ia memperkirakan inflasi akan kembali melandai. Menurutnya, tekanan kenaikan upah masih terbatas dan inflasi sektor perumahan terus melemah.
Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh memilih tidak memberi petunjuk mengenai arah suku bunga. Ia ingin menunggu perkembangan data ekonomi sebelum mengambil keputusan.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi tahunan berdasarkan Consumer Price Index (CPI) turun dari 4,2 persen menjadi 3,5 persen pada Juni. Meski demikian, Gubernur The Fed Christopher Waller menegaskan bank sentral masih membutuhkan beberapa bulan data inflasi yang lebih rendah sebelum mengubah kebijakan moneter. (nr*)









