Sungai Penuh, jentik.id – SMA Negeri 3 Koto Baru, Kota Sungai Penuh, mulai melakukan pembenahan internal di bawah kepemimpinan kepala sekolah yang baru. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mengoptimalkan peran siswa dan guru dalam proses pendidikan.
Pembenahan dilakukan dengan mengevaluasi dan melanjutkan berbagai program sekolah yang telah berjalan sebelumnya.
Langkah ini dinilai penting agar kesinambungan program tetap terjaga dan tidak terputus dalam proses pergantian kepemimpinan.
Kepala SMA Negeri 3 Koto Baru, Marjan, S.Pd., M.Si, mengatakan pihaknya berkomitmen melanjutkan program-program yang telah ada sembari melakukan berbagai perbaikan sesuai kebutuhan sekolah.
“Program yang sudah ada akan kita lanjutkan dengan baik. Ini bagian dari upaya kita untuk terus berbenah agar siswa mendapatkan pembelajaran sebagaimana mestinya, sesuai dengan program yang dicanangkan pemerintah,” ujar Marjan saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, pembenahan tersebut terutama diarahkan untuk mendorong peningkatan kemampuan akademik siswa.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama berada di bangku sekolah diharapkan dapat menjadi bekal ketika siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Upaya pembenahan ini diciptakan untuk memajukan siswa, khususnya dalam meningkatkan kemampuan akademiknya. Sehingga pengetahuan yang didapat selama di bangku sekolah dapat dimanfaatkan saat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” katanya.
Selain aspek akademik, Marjan juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi dalam dunia pendidikan. Menurutnya, perkembangan teknologi harus diikuti oleh siswa maupun guru agar proses pembelajaran tidak tertinggal dari tuntutan zaman.
Ia mengatakan teknologi dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Dengan demikian, guru dan siswa tidak hanya menggunakan teknologi sebagai sarana pendukung, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
“Dalam pengembangan sumber daya guru, kita mengoptimalisasikan peran guru dalam mengajar di kelas. Setiap pembelajaran, guru harus hadir di kelas sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara terarah dan optimal,” tegasnya.
Marjan menambahkan, tugas guru tidak hanya sebatas mendidik dan menyampaikan materi pelajaran. Guru juga memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mengarahkan siswa agar tetap berada pada jalur yang tepat, baik dalam proses akademik maupun pembentukan sikap.
Guru, lanjutnya, harus mampu mengelola kelas secara menyeluruh, menyusun rencana pembelajaran, menentukan kegiatan belajar yang tepat, serta menciptakan suasana kelas yang nyaman dan kondusif.
“Guru harus mampu mengendalikan dan menangani kelas. Selain itu, guru juga harus memiliki kompetensi dalam merancang rencana pembelajaran, menentukan kegiatan pembelajaran dan menciptakan suasana kelas yang nyaman untuk belajar.
Ketika muncul masalah dalam proses pembelajaran, guru juga harus mampu mengatasinya,” jelas Marjan.
Ia menegaskan, pembenahan di SMA Negeri 3 Koto Baru tidak hanya menyasar kegiatan belajar mengajar. Pihak sekolah juga akan melibatkan orang tua atau wali murid untuk mendukung proses perubahan dan peningkatan kualitas pendidikan.
Marjan menyadari perubahan pola pikir dan budaya kerja di lingkungan sekolah tidak dapat dilakukan secara instan. Karena itu, pembenahan akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
“Upaya untuk mengubah mindset bukan sesuatu yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Karena itu, semuanya harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan,” tuturnya.
Berpengalaman sosok Marjan di Dunia Pendidikan tidak diragukan, komitmen pembenahan tersebut juga didukung oleh pengalaman Marjan di bidang pendidikan.
Sebelum dipercaya memimpin SMA Negeri 3 Koto Baru, ia pernah menjabat sebagai Kepala SMA Negeri Pulau Tengah dan Kepala SMA Negeri Lempur di Kabupaten Kerinci.
Selain pengalaman sebagai kepala sekolah, Marjan juga memiliki pengalaman sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi, khususnya dalam bidang pendidikan.
Pengalaman tersebut menjadi modal dalam menjalankan pembenahan sekolah, terutama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat kompetensi guru, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu mendorong siswa berkembang secara akademik maupun nonakademik.(asy*)









