Sungai Penuh, jentik.id— Sampah sering dianggap tidak berguna. Setelah dibuang, urusannya seolah selesai.
Padahal, persoalan sampah justru bisa dimulai dari sana.
Sampah yang tidak dikelola dapat mencemari lingkungan. Sebaliknya, sampah yang dipilah dan diolah dengan benar masih bisa memiliki nilai guna, bahkan nilai ekonomi.
Persoalannya bukan semata-mata pada sampah. Persoalannya juga terletak pada kebiasaan manusia memperlakukannya.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Talkshow Lingkungan yang diselenggarakan Bank Sampah Sahabat Alam (BSSA) bersama Bank Sampah Binaan Sahabat Alam, Minggu (1/11/2026).
Kegiatan berlangsung di Rumah Aliya Creative Space, Talang Lindung, Kota Sungai Penuh. Sekitar 100 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum hadir untuk membicarakan masa depan lingkungan.
Ada yang menarik. Talkshow ini sekaligus menjadi momentum memperingati dua tahun berdirinya BSSA.
Dua tahun perjalanan sebuah komunitas mungkin terasa singkat. Namun, membangun kesadaran masyarakat untuk mengubah kebiasaan bukanlah pekerjaan mudah.
Mengajak orang membuang sampah pada tempatnya saja belum cukup. Masyarakat juga perlu memahami cara memilah, mengolah, dan mengurangi sampah sejak dari rumah.
Karena itu, tema yang diangkat terasa relevan: Dari Sampah hingga Kabut Asap: Saatnya Pemuda Bergerak untuk Bumi.
Dari sampah rumah tangga hingga kebakaran hutan dan lahan, semuanya bermuara pada satu persoalan besar: bagaimana manusia menjaga lingkungan tempat hidupnya sendiri.
Sampah Bukan Akhir, tetapi Awal Perubahan
Founder Bank Sampah Sahabat Alam, Yuli Emilia Rosa, S.T., berbagi pengalaman mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Gerakan lingkungan, dalam praktiknya, tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kebiasaan sederhana bisa menjadi pintu masuk perubahan.
Memilah sampah dari rumah, misalnya. Memisahkan sampah yang masih bisa dimanfaatkan dari sampah yang tidak dapat diolah kembali.
Kebiasaan itu mungkin terlihat kecil. Namun, jika dilakukan oleh banyak keluarga, dampaknya bisa menjadi besar.
Sampah tidak lagi semata-mata menjadi barang buangan. Sebagian dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang atau pengolahan yang tepat.
Di sinilah peran komunitas menjadi penting. Masyarakat membutuhkan pengetahuan, pendampingan, dan contoh nyata agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai imbauan.
BSSA berupaya mengambil bagian dalam proses tersebut melalui edukasi dan kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Narasumber lainnya, Dorel Efendi, S.Hut., praktisi lingkungan di bidang ekologi dan kehutanan, mengajak peserta melihat persoalan lingkungan dari sudut yang lebih luas.
Hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan. Hutan merupakan bagian penting dari ekosistem yang menopang kehidupan.
Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, dampaknya tidak berhenti di lokasi kebakaran. Kabut asap dapat menurunkan kualitas udara, mengganggu aktivitas masyarakat, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Karena itu, pencegahan kebakaran dan perlindungan kawasan hutan membutuhkan perhatian bersama.
Persoalan sampah dan kabut asap memang berbeda. Namun, keduanya mengingatkan manusia tentang pentingnya memperlakukan alam secara bertanggung jawab.
Diskusi dipandu Miss Mulda, S.Si., CPS, sebagai pembawa acara sekaligus moderator. Dengan pendekatan komunikatif dan interaktif, ia menjembatani pembahasan mengenai pengelolaan sampah, ekologi, kehutanan, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Tidak Cukup Mendengar, Peserta Diajak Melihat Langsung
Talkshow ini tidak hanya berlangsung di ruang diskusi.
Para relawan BSSA juga menghadirkan sejumlah stand edukasi. Ada stand penukaran sampah, daur ulang, edukasi eco-enzyme, pengolahan kompos, hingga budidaya maggot.
Pengunjung dapat melihat secara langsung berbagai cara mengolah sampah dan memanfaatkan kembali bahan yang masih berguna.
Pendekatan seperti ini membuat edukasi lingkungan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Masyarakat tidak hanya memperoleh teori. Mereka juga berkesempatan mengenal praktik yang dapat diterapkan di rumah maupun lingkungan sekitar.
Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos melalui proses yang tepat. Sementara itu, maggot dapat dimanfaatkan dalam pengolahan jenis sampah organik tertentu.
Berbagai praktik tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan pengetahuan sekaligus kebiasaan yang konsisten.
Jika sampah sudah dipilah sejak awal, proses pengolahan berikutnya dapat menjadi lebih mudah.
Namun, semua itu memerlukan kesadaran. Sebab, teknologi pengolahan sampah tidak akan berjalan maksimal jika masyarakat masih mencampur semua jenis sampah menjadi satu.
Meri Sumarni: Lingkungan Harus Dijaga dari Rumah
Dukungan terhadap kegiatan BSSA datang dari Meri Sumarni.
Ia menilai keberadaan komunitas tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus lingkungan. Terlebih, kegiatan talkshow ini juga menjadi bagian dari peringatan dua tahun berdirinya BSSA.
“Komunitas ini sangat memberi manfaat kepada masyarakat dan lingkungan agar senantiasa menjaga lingkungan, dimulai dari rumah masing-masing. Ke depan, supaya lebih banyak lagi muncul generasi muda peduli lingkungan,” sebut Meri.
Pernyataan Meri mengandung pesan sederhana, tetapi mendasar.
Menjaga lingkungan tidak harus menunggu program besar. Tidak pula harus menunggu semua orang bergerak lebih dahulu.
Rumah sendiri bisa menjadi tempat pertama untuk memulai perubahan.
Dari kebiasaan memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, hingga memastikan sampah tidak dibuang sembarangan.
Kebiasaan itu juga perlu diwariskan kepada anak-anak dan generasi muda. Sebab, lingkungan yang bersih tidak cukup dijaga oleh satu generasi saja.
Harapan Meri sejalan dengan semangat yang dibawa dalam talkshow tersebut: semakin banyak anak muda yang tidak hanya memahami persoalan lingkungan, tetapi juga bersedia mengambil bagian dalam penyelesaiannya.
Menanamkan Cinta Lingkungan Sejak Dini
Upaya membangun kepedulian lingkungan juga menyasar anak-anak.
BSSA menggelar lomba mewarnai bertema lingkungan untuk tingkat TK/PAUD se-Kota Sungai Penuh.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diperkenalkan pada nilai-nilai cinta lingkungan dengan cara yang menyenangkan.
Mereka belajar melalui warna, gambar, dan kreativitas. Sebuah pendekatan sederhana untuk mengenalkan pentingnya menjaga alam sejak usia dini.
Mungkin hari itu mereka hanya sibuk memilih warna untuk pepohonan, sungai, atau gambar bumi.
Namun, pendidikan lingkungan memang tidak selalu harus dimulai dengan ceramah panjang. Kebiasaan baik dapat tumbuh dari pengalaman sederhana yang terus diulang.
Suasana kegiatan semakin meriah dengan penampilan tim Sanggar Serau Grao Sikai yang menghadirkan unsur budaya dan kreativitas.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Rumah BUMN Kerinci dan Rumah Aliya sebagai sponsor.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa gerakan lingkungan dapat melibatkan berbagai pihak. Komunitas, dunia usaha, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai perannya masing-masing.
Dua Tahun BSSA, Perjalanan Masih Panjang
Peringatan dua tahun berdirinya BSSA bukan sekadar penanda usia sebuah komunitas.
Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa membangun kepedulian lingkungan merupakan pekerjaan berkelanjutan.
Satu kali talkshow tentu tidak langsung menyelesaikan persoalan sampah. Satu kegiatan juga tidak serta-merta mencegah kebakaran hutan.
Namun, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang-kadang, perubahan bermula dari satu keluarga yang mulai memilah sampah. Dari seorang pelajar yang tidak lagi membuang bungkus makanan sembarangan. Atau dari seorang pemuda yang mengajak tetangganya menjaga kebersihan lingkungan.
Jika kebiasaan itu menyebar, gerakan kecil dapat berkembang menjadi kekuatan bersama.
BSSA berharap kegiatan edukasi seperti ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangannya adalah memastikan semangat yang tumbuh dalam talkshow tidak berhenti ketika acara selesai.
Sebab, keberhasilan gerakan lingkungan tidak hanya diukur dari banyaknya peserta yang hadir. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan kebiasaan setelah mereka pulang.
Apakah sampah mulai dipilah? Apakah lingkungan rumah semakin bersih? Apakah semakin banyak anak muda yang bersedia menjadi bagian dari solusi?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan arti sebuah gerakan lingkungan.
Dua tahun BSSA menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Masih banyak kebiasaan yang perlu diubah.
Tetapi langkah harus tetap dimulai.
Bumi tidak membutuhkan lebih banyak slogan jika slogan itu tidak diikuti tindakan.
Bumi membutuhkan orang yang bersedia mengubah kebiasaan, mengurangi sampah, menjaga hutan, dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya urusan mereka yang berbicara di atas panggung.
Urusan itu dimulai dari rumah. Dari halaman sendiri. Dari sampah yang kita hasilkan setiap hari.
Karena bumi yang lestari tidak dibangun dari kata-kata saja. Ia tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama.
Editor : Mardizal Sumara









