Kerinci, jentik.id-–Aktivitas penerbangan di Bandara Depati Parbo Kerinci, Jambi, hingga kini masih terkesan “hidup segan mati tak mau”. Sejumlah maskapai yang pernah melayani rute Jambi (DJB)–Kerinci (KRC) silih berganti beroperasi, namun tidak mampu bertahan dalam jangka panjang.
Beberapa maskapai yang pernah membuka layanan penerbangan di rute tersebut di antaranya Wings Air (Lion Air Group), Susi Air, hingga penggunaan pesawat jenis ATR 72. Bahkan, sempat pula direncanakan penggunaan pesawat jet sekelas Boeing 737, menyesuaikan dengan kondisi landasan pacu Bandara Depati Parbo.
Namun, aktivitas penerbangan tersebut sempat terhenti sejak tahun 2019 akibat pandemi COVID-19. Dalam waktu dekat, operasional penerbangan di bandara tersebut direncanakan akan kembali dibuka.
Selain rute Jambi–Kerinci, sebelumnya juga pernah dibuka rute Kerinci–Padang (PDG) yang dilayani oleh Susi Air dengan kapasitas sekitar 12 penumpang. Namun, rute tersebut juga tidak bertahan lama.
Terhentinya layanan penerbangan ini dipicu oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah harga tiket yang relatif mahal, berkisar antara Rp700 ribu hingga Rp1,2 juta. Di sisi lain, transportasi darat masih menjadi pilihan utama masyarakat karena dinilai lebih terjangkau.
Selain itu, berdasarkan nota kesepahaman (MoU) antara pemerintah daerah dengan pihak maskapai, operasional penerbangan perintis membutuhkan dukungan atau suntikan pendanaan dari pemerintah melalui APBD, untuk menutupi potensi kerugian maskapai.
Sumber menyebutkan, tanpa adanya subsidi atau bantuan dari pemerintah daerah, maskapai penerbangan akan sulit bertahan melayani rute DJB–KRC maupun rute lainnya seperti Kerinci–Padang.
Dengan kondisi tersebut, keberlanjutan operasional penerbangan di Bandara Depati Parbo Kerinci sangat bergantung pada dukungan pemerintah serta minat masyarakat dalam menggunakan transportasi udara. (Am)









