KERINCI, Jentik.id – Produksi gula tebu merah tradisional di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, terus mengalami penurunan. Saat ini, hanya segelintir keluarga yang masih bertahan menjalankan usaha turun-temurun tersebut.
Gula tebu merah asal daerah ini dikenal memiliki kualitas tinggi. Hal itu karena menggunakan bahan baku tebu lokal varietas POJ 2878 Agribun yang sangat cocok ditanam di dataran tinggi seperti Kayu Aro.
Desa Lindung Jaya menjadi salah satu sentra yang masih mempertahankan produksi gula tebu merah. Namun, jumlah perajin terus berkurang. Kini hanya beberapa keluarga yang menggantungkan hidup dari usaha tersebut sebagai penopang ekonomi.
Salah satu penyebab utama penurunan produksi adalah keterbatasan bahan baku. Luas lahan tebu semakin menyusut akibat alih fungsi menjadi lahan tanaman kentang yang dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi.
Suhano, warga Desa Lindung Jaya, mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir banyak perajin gula tebu merah beralih profesi menjadi petani kentang.
“Akibatnya, bahan baku untuk memproduksi gula tebu merah semakin sulit didapat. Banyak lahan yang dulunya ditanami tebu kini beralih ke tanaman kentang karena lebih menjanjikan untuk kebutuhan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Meski demikian, dari sisi pemasaran tidak mengalami kendala. Para pedagang dari luar daerah Kerinci tetap siap menampung hasil produksi berapapun jumlahnya.
“Kalau dikumpulkan, produksi gula tebu merah saat ini sekitar 2 ton per pekan,” tambahnya.
Gula tebu merah dari Desa Lindung Jaya dan Desa Sungai Asam juga menjadi salah satu bahan baku penting bagi industri, seperti pabrik kecap di Sumatera Barat dan Palembang.(Red/*).









