Produksi Gula Tebu Merah Kayu Aro Terus Menurun

Daerah

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 16 April 2026 - 02:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KERINCI, Jentik.id – Produksi gula tebu merah tradisional di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, terus mengalami penurunan. Saat ini, hanya segelintir keluarga yang masih bertahan menjalankan usaha turun-temurun tersebut.

Gula tebu merah asal daerah ini dikenal memiliki kualitas tinggi. Hal itu karena menggunakan bahan baku tebu lokal varietas POJ 2878 Agribun yang sangat cocok ditanam di dataran tinggi seperti Kayu Aro.

Desa Lindung Jaya menjadi salah satu sentra yang masih mempertahankan produksi gula tebu merah. Namun, jumlah perajin terus berkurang. Kini hanya beberapa keluarga yang menggantungkan hidup dari usaha tersebut sebagai penopang ekonomi.

Baca Juga :  10 Terdakwa Korupsi Pokir PJU DPRD Kerinci Pengadilan Tipikor Jambi Vonis Penjara

Salah satu penyebab utama penurunan produksi adalah keterbatasan bahan baku. Luas lahan tebu semakin menyusut akibat alih fungsi menjadi lahan tanaman kentang yang dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi.

Suhano, warga Desa Lindung Jaya, mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir banyak perajin gula tebu merah beralih profesi menjadi petani kentang.

“Akibatnya, bahan baku untuk memproduksi gula tebu merah semakin sulit didapat. Banyak lahan yang dulunya ditanami tebu kini beralih ke tanaman kentang karena lebih menjanjikan untuk kebutuhan ekonomi keluarga,” ujarnya.

Baca Juga :  Koperasi Merah Putih Ekonomi Desa Jadi Motor Transformasi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Meski demikian, dari sisi pemasaran tidak mengalami kendala. Para pedagang dari luar daerah Kerinci tetap siap menampung hasil produksi berapapun jumlahnya.

“Kalau dikumpulkan, produksi gula tebu merah saat ini sekitar 2 ton per pekan,” tambahnya.

Gula tebu merah dari Desa Lindung Jaya dan Desa Sungai Asam juga menjadi salah satu bahan baku penting bagi industri, seperti pabrik kecap di Sumatera Barat dan Palembang.(Red/*).

Berita Terkait

Akhir Pencarian 4 Hari, Tim SAR Temukan Guru Hanyut Sejauh 19 Kilometer
Adik Jusuf Kalla Alihkan Saham Bukaka Rp195 Miliar ke Dua Putrinya, Struktur Kepemilikan BUKK Berubah
Pemkot Jambi Kaji Retribusi Kabel Utilitas, PAD Baru Berpeluang Mengalir
Ledakan Dahsyat Guncang Biak, 5 Orang Tewas dan 3 Warga Masih Hilang.
Purbaya Sebut PT DSI Jadi Angin Segar bagi Pasar, Investor Berpotensi Raup Keuntun
Kota Padang Alokasikan Rp110 Miliar untuk Perbaikan Drainase dan Irigasi guna Cegah Banjir
Nahas di Tikungan Telago Kerinci, Pedagang Telur Terjatuh hingga Ratusan Butir Pecah
Tiga Kepala Daerah Wilayah Barat Jambi Sepakat Dukung Batik Air di Bandara Muara Bungo, Bandara Depati Parbo Dinilai Terabaikan
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:53 WIB

Akhir Pencarian 4 Hari, Tim SAR Temukan Guru Hanyut Sejauh 19 Kilometer

Senin, 1 Juni 2026 - 09:52 WIB

Pemkot Jambi Kaji Retribusi Kabel Utilitas, PAD Baru Berpeluang Mengalir

Senin, 1 Juni 2026 - 08:19 WIB

Ledakan Dahsyat Guncang Biak, 5 Orang Tewas dan 3 Warga Masih Hilang.

Senin, 1 Juni 2026 - 07:18 WIB

Purbaya Sebut PT DSI Jadi Angin Segar bagi Pasar, Investor Berpotensi Raup Keuntun

Minggu, 31 Mei 2026 - 00:58 WIB

Kota Padang Alokasikan Rp110 Miliar untuk Perbaikan Drainase dan Irigasi guna Cegah Banjir

Berita Terbaru