Thaheran, jentik.id–Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya siap menggunakan seluruh kemampuan untuk mempertahankan kepentingan nasional dan keamanan di tengah meningkatnya ancaman dari Amerika Serikat (AS).
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, Araghchi menyebut ancaman AS terhadap pelabuhan, wilayah pesisir, dan kapal Iran sebagai bukti bahwa Washington tidak serius menempuh jalur diplomasi.
Ia menilai tekanan militer dan retorika keras justru memperburuk situasi kawasan. Iran, kata dia, tetap membuka ruang dialog, namun tidak akan mengorbankan kedaulatan negara.
Iran Tuduh AS Langgar Kesepakatan dan Gencatan Senjata
Media pemerintah Press TV melaporkan bahwa Araghchi menuding AS berulang kali melanggar kesepahaman dalam satu tahun terakhir.
Ia menyoroti dugaan agresi militer AS saat proses negosiasi pada Maret dan Juni 2025. Ia juga menilai AS melanggar gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.
“Ini adalah tanda jelas dari niat buruk dan kurangnya keseriusan dalam diplomasi,” ujar Araghchi.
Ia kembali menegaskan sikap tegas Iran.
“Iran akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menjaga kepentingan negara dan keamanan nasional,” tegasnya.
Pengamat hubungan internasional menilai pernyataan ini menunjukkan Iran ingin memperkuat posisi tawar dalam negosiasi sekaligus memberi sinyal tegas kepada lawan.
AS Siapkan Perundingan Baru dengan Iran di Pakistan
Seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa Wakil Presiden AS, J. D. Vance, bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner akan mengunjungi Pakistan untuk melanjutkan perundingan dengan Iran.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan kepada Fox News bahwa pertemuan akan berlangsung pada Selasa (21/4) di Islamabad dan kemungkinan berlanjut hingga Rabu (22/4).
Langkah ini menunjukkan kedua pihak masih mempertahankan jalur diplomasi meski ketegangan meningkat. Pakistan berperan sebagai mediator untuk meredakan konflik dan mendorong kesepakatan baru.
Konflik Ganggu Jalur Energi di Selat Hormuz
Konflik antara AS, Israel, dan Iran terus memanas sejak akhir Februari. Ketegangan ini mengganggu jalur pengiriman energi global melalui Selat Hormuz.
Gangguan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak dunia karena Selat Hormuz menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi internasional.
Sejumlah analis energi memperkirakan gangguan di kawasan ini dapat mendorong kenaikan harga minyak global. Negara-negara pengimpor energi juga mulai mewaspadai dampak lanjutan terhadap stabilitas ekonomi.
Jika konflik terus berlanjut, pasar energi global berpotensi mengalami tekanan lebih besar. Karena itu, banyak pihak mendorong semua negara yang terlibat untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. (Red/*)









