Ribuan Ikan Mati di AS, Gelombang Panas Ekstrem Ancam Ekosistem Perairan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ribuan ikan mati di Laguna Zapallar, Chili, diduga akibat rendahnya oksigen dan kelebihan nutrisi. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

Foto: Ribuan ikan mati di Laguna Zapallar, Chili, diduga akibat rendahnya oksigen dan kelebihan nutrisi. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

Jakarta, jentik.id – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Amerika Serikat memicu kematian massal ikan di berbagai danau dan sungai. Para peneliti menilai kenaikan suhu yang berlangsung lebih cepat dari biasanya mulai memberi tekanan besar pada ekosistem perairan.

Ribuan Ikan Mengambang di Minnesota

Petugas menemukan sekitar 1.000 bangkai ikan jenis bluegill dan crappie mengambang di Danau Como, Minnesota. Kenaikan suhu air yang cepat menurunkan kadar oksigen sehingga ikan kesulitan bertahan hidup.

Para ahli menduga kombinasi suhu tinggi dan rendahnya kadar oksigen menjadi penyebab utama kematian ikan di kawasan tersebut.

Danau San Carlos Kehilangan Hampir Seluruh Populasi Ikan

Di Arizona, otoritas satwa liar menutup akses publik ke Danau San Carlos tanpa batas waktu. Kekeringan berkepanjangan menyusutkan volume air sekaligus memperburuk kualitas habitat ikan.

Kondisi tersebut memusnahkan hampir seluruh populasi ikan di danau itu dalam waktu singkat. Otoritas setempat menutup area tersebut untuk memudahkan pemantauan dan penanganan dampak lingkungan.

Gelombang Panas Hantam Sungai Charles

Fenomena serupa juga muncul di Massachusetts. Gelombang panas yang datang lebih awal memicu kematian massal ikan mas di Sungai Charles.

Baca Juga :  Duka di Arafah! Jemaah Haji Asal Kerinci Wafat, PPIH Siapkan Badal Haji

Banyak ikan yang baru melewati masa pemijahan kehilangan energi dan gagal beradaptasi dengan kenaikan suhu air yang drastis. Kondisi tersebut mempercepat kematian ikan di kawasan sungai itu.

Kematian Ikan Muncul Lebih Awal

Manajer Program Ilmu Sungai Charles River Watershed Association, Marielena Lima, menilai kematian massal ikan tahun ini muncul lebih awal dibandingkan pola yang biasanya terjadi.

Menurutnya, kekeringan yang berlangsung selama berbulan-bulan berpadu dengan suhu tinggi dan menciptakan tekanan besar bagi habitat perairan.

Biasanya, fenomena serupa muncul pada puncak musim panas. Namun tahun ini, para peneliti sudah melihat tanda-tandanya sejak awal musim.

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko

Para ilmuwan menegaskan bahwa kematian massal ikan bukan fenomena baru. Populasi ikan memang dapat naik dan turun secara alami mengikuti perubahan kondisi lingkungan.

Namun, perubahan iklim meningkatkan risiko kejadian serupa. Britta Belden dari Capitol Region Watershed District menjelaskan bahwa suhu musim panas yang terus meningkat dapat memicu kematian ikan lebih sering dan dalam jumlah lebih besar.

Karena itu, para peneliti mendorong berbagai upaya untuk menjaga kesehatan danau, sungai, serta ekosistem perairan agar tetap mampu menopang kehidupan ikan.

Baca Juga :  Sungai Rawan Meluap, Pemkab Pasaman Barat Keluarkan Imbauan Siaga Banjir

Penelitian Prediksi Angka Kematian Ikan Naik

Sejumlah penelitian terbaru memperkirakan frekuensi kematian massal ikan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Para peneliti melihat hubungan yang semakin kuat antara cuaca panas ekstrem dan kematian ikan di berbagai wilayah.

Fenomena ini muncul setelah dunia mencatat Mei 2026 sebagai salah satu bulan terpanas dalam sejarah pengamatan modern. Catatan pengamatan menunjukkan suhu global berada sekitar 2,55 derajat Fahrenheit di atas tingkat era pra-industri.

Musim Panas 2026 Berpotensi Pecahkan Rekor

Para ilmuwan iklim memperkirakan musim panas 2026 akan menjadi salah satu yang terpanas sepanjang sejarah. Mereka juga memperingatkan bahwa siklus iklim global dapat memperkuat cuaca ekstrem di berbagai negara.

Jika tren pemanasan global terus berlanjut, para peneliti khawatir kematian massal ikan tidak lagi menjadi kejadian sesekali. Mereka memperkirakan fenomena tersebut akan menjadi salah satu dampak perubahan iklim yang semakin sering mengancam ekosistem perairan di seluruh dunia. (nr*)

Berita Terkait

Efek Damai AS-Iran! Harga Minyak Ambruk, Batu Bara dan CPO Ikut Terseret.
Babak Baru Timur Tengah! Trump Klaim AS dan Iran Segera Teken Kesepakatan Damai”
Iran Tutup Selat Hormuz, Ketegangan dengan AS Kian Memanas
Tren Umrah Plus: Ibadah Suci yang Kini Menyatu dengan Wisata Global
Konflik Bersenjata Pecah di Somalia, Presiden Tolak Lengser dan Picu Krisis Politik
Resmi Dimulai! Kloter Pertama Jemaah Haji Indonesia Tinggalkan Arab Saudi.
Jemaah Haji Jambi Tuntaskan Armuzna, Tawaf Ifadah Jadi Penentu Akhir Ibadah
Ketegangan AS dan Iran Meledak Lagi Saat Negosiasi Damai Masih Berjalan
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:30 WIB

Ribuan Ikan Mati di AS, Gelombang Panas Ekstrem Ancam Ekosistem Perairan

Senin, 15 Juni 2026 - 18:44 WIB

Efek Damai AS-Iran! Harga Minyak Ambruk, Batu Bara dan CPO Ikut Terseret.

Senin, 15 Juni 2026 - 08:44 WIB

Babak Baru Timur Tengah! Trump Klaim AS dan Iran Segera Teken Kesepakatan Damai”

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:30 WIB

Iran Tutup Selat Hormuz, Ketegangan dengan AS Kian Memanas

Senin, 8 Juni 2026 - 10:41 WIB

Tren Umrah Plus: Ibadah Suci yang Kini Menyatu dengan Wisata Global

Berita Terbaru