Kepercayaan Pasar Jadi Kunci Hadapi Tekanan Rupiah 

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Legislator Fraksi PKS Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Kholid menjelaskan, pola pembacaan investor terhadap kondisi ekonomi global kini telah berubah. Jika sebelumnya pasar lebih banyak mengacu pada data historis, saat ini pelaku pasar lebih fokus membaca potensi risiko masa depan serta arah kebijakan pemerintah.

Legislator Fraksi PKS Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Kholid menjelaskan, pola pembacaan investor terhadap kondisi ekonomi global kini telah berubah. Jika sebelumnya pasar lebih banyak mengacu pada data historis, saat ini pelaku pasar lebih fokus membaca potensi risiko masa depan serta arah kebijakan pemerintah.

Jakarta,jentik.id– Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Kholid menilai gejolak nilai tukar rupiah dan tekanan di pasar keuangan saat ini tidak cukup direspons hanya melalui kebijakan teknis moneter.

Menurutnya, kunci utama menjaga stabilitas ekonomi terletak pada kemampuan pemerintah dan otoritas ekonomi membangun kepercayaan pasar.

Legislator Fraksi PKS itu menjelaskan, pola pembacaan investor terhadap kondisi ekonomi global kini telah berubah. Jika sebelumnya pasar lebih banyak mengacu pada data historis, saat ini pelaku pasar lebih fokus membaca potensi risiko masa depan serta arah kebijakan pemerintah.

“Perlu ada strategic management ekspektasi. Bagaimana mengelola ekspektasi itu strategis. Jadi bukan hanya kebijakan teknis moneter, tapi manajemen ekspektasinya harus diperkuat,” ujar Kholid dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Baca Juga :  Kurs Anjlok ke Rp17.090, Pasar Dibayangi Ketegangan Global

Menurutnya, pasar keuangan bergerak sangat cepat dan sensitif terhadap persepsi. Karena itu, komunikasi yang konsisten antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan otoritas fiskal menjadi faktor penting agar pelaku pasar tidak membangun kekhawatiran berlebihan terhadap kondisi ekonomi nasional.

Kholid menegaskan, respons otoritas tidak cukup hanya berupa intervensi teknis di pasar keuangan. Ia menyinggung teori rational expectation yang diperkenalkan ekonom Robert Lucas untuk menggambarkan cara pasar bekerja saat ini.

Menurutnya, investor, hedge fund, hingga pelaku industri kini melakukan penilaian berdasarkan proyeksi risiko masa depan sebelum mengambil keputusan investasi.

“Bahwa pelaku pasar, investor, hedge fund, industri, mereka itu membuat pricing yang rational. Bukan data kemarin, bukan data hari ini, tapi pricing futurist. Jadi risiko-risiko di masa depan itu dipricing oleh market dan ditarik pada hari ini,” tegasnya.

Baca Juga :  Purbaya Pastikan APBN Aman Meski Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS

Ia juga menilai tantangan terbesar pemerintah saat ini bukan hanya menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga mematahkan persepsi bahwa Indonesia sedang menuju situasi krisis seperti tahun 1998.

Menurut Kholid, trauma kolektif terhadap krisis ekonomi masa lalu masih memengaruhi cara publik dan pasar membaca kondisi ekonomi saat ini.

“Message-nya harus loud and clear, harus konsisten. Kalau otoritas itu kompak, otoritas moneter, industri jasa keuangan, kementerian keuangan, dan diikuti kebijakan yang konsisten, itu memberikan sinyal bahwa kondisi hari ini berbeda dengan 1998,” pungkasnya.(asy*)

Berita Terkait

Harga BBM Nonsubsidi Resmi Turun di Seluruh Indonesia Pertamax Turbo hingga Dexlite
KPK Lelang Aset Rampasan 25 Kasus Korupsi, Rp39,8 Miliar Disetor ke Kas Negara
Harga Minyak Dunia Turun, Pertamina Siapkan Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Mulai Juli 2026
7.000 Pekerja Terancam PHK, Dua Perusahaan Komponen Otomotif Jepang Berencana Pindahkan Produksi ke Vietnam
Harga Kentang di Tingkat Petani Kayu Aro Turun Menjadi Rp7.500 per Kilogram
Udang windu, komoditas Kampung Batimbuk Barau Menghasilan 769,9 Ton Benilai Rpb173.3 Miliar.
Rupiah Tembus Rp 17.860, Bank Indonesia Ungkap Faktor Pendorong Penguatan Mata Uang
Bahlil Tegaskan Harga BBM dan LPG Subsidi Tetap, Tak Ada Kenaikan
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 22:48 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Resmi Turun di Seluruh Indonesia Pertamax Turbo hingga Dexlite

Senin, 29 Juni 2026 - 17:50 WIB

KPK Lelang Aset Rampasan 25 Kasus Korupsi, Rp39,8 Miliar Disetor ke Kas Negara

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:40 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, Pertamina Siapkan Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Mulai Juli 2026

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:51 WIB

7.000 Pekerja Terancam PHK, Dua Perusahaan Komponen Otomotif Jepang Berencana Pindahkan Produksi ke Vietnam

Sabtu, 20 Juni 2026 - 18:27 WIB

Harga Kentang di Tingkat Petani Kayu Aro Turun Menjadi Rp7.500 per Kilogram

Berita Terbaru