Anjloknya Harga TBS Sawit, Petani Terguncang dan Terancam Merugi

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petani berharap langkah cepat pemerintah mampu mengembalikan stabilitas harga sawit sehingga pendapatan mereka kembali normal dan keberlangsungan usaha perkebunan rakyat tetap terjaga. Di tengah tingginya biaya produksi, pemulihan harga TBS menjadi kebutuhan mendesak agar petani tidak terus menanggung kerugian yang semakin besar

Petani berharap langkah cepat pemerintah mampu mengembalikan stabilitas harga sawit sehingga pendapatan mereka kembali normal dan keberlangsungan usaha perkebunan rakyat tetap terjaga. Di tengah tingginya biaya produksi, pemulihan harga TBS menjadi kebutuhan mendesak agar petani tidak terus menanggung kerugian yang semakin besar

Jambi, jentik.id – Petani kelapa sawit di berbagai wilayah Provinsi Jambi dalam sepekan terakhir menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga jual Tandan Buah Segar (TBS) sawit. Penurunan harga yang terjadi secara drastis membuat banyak petani mengeluhkan kerugian karena harga jual sudah berada di bawah biaya produksi.

Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah sentra perkebunan sawit lainnya di Indonesia. Di beberapa wilayah, harga TBS disebut turun antara Rp800 hingga Rp1.000 per kilogram hanya dalam hitungan hari.

Penurunan harga paling dirasakan oleh petani swadaya yang selama ini bergantung pada hasil panen sawit sebagai sumber utama pendapatan keluarga.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, mengungkapkan harga TBS di sejumlah daerah sempat merosot dari sekitar Rp3.600 per kilogram menjadi Rp1.800 per kilogram.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat memberatkan petani karena Harga Pokok Produksi (HPP) sawit berada di kisaran Rp2.000 per kilogram. Dengan demikian, sebagian petani terpaksa menjual hasil panen di bawah biaya produksi.

Baca Juga :  Bupati Kerinci Monadi Percepat Pembangunan Infrastruktur 2026

“Tentu harapan kami peristiwa ambruknya harga TBS ini bisa segera pulih setelah adanya pertemuan dan langkah-langkah yang dilakukan pemerintah,” ujar Gulat.

Anjloknya harga sawit tidak hanya berdampak pada pendapatan petani, tetapi juga mengancam perekonomian keluarga mereka.

Hasil panen sawit selama ini menjadi sumber utama pembiayaan kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, hingga pembayaran cicilan kebun dan pembelian pupuk. Ketika harga turun tajam, daya beli petani pun ikut tergerus.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan pemerintah telah merespons cepat keluhan petani dengan menggelar rapat koordinasi bersama pelaku usaha, asosiasi petani sawit, serta Satgas Pangan Polri di Jakarta

Menurut Sudaryono, pemerintah berkomitmen memastikan petani dan pelaku usaha sawit tetap terlindungi di tengah gejolak harga yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

“Pemerintah meminta perusahaan segera menyesuaikan kembali harga pembelian TBS berdasarkan harga acuan crude palm oil (CPO) di masing-masing daerah agar stabilitas pasar kembali pulih,” katanya.

Baca Juga :  Jelang Lebaran 2026, Penyandang Disabilitas Padang Panjang Terima Zakat

Ia berharap setelah adanya penjelasan dan koordinasi lintas sektor, kekhawatiran pelaku usaha dapat berkurang sehingga harga pembelian TBS kembali normal sesuai mekanisme yang berlaku.

Lebih lanjut, Sudaryono menilai gejolak harga sawit saat ini tidak sepenuhnya dipengaruhi faktor fundamental pasar, melainkan juga dipicu oleh efek psikologis terkait implementasi kebijakan ekspor satu pintu yang masih menimbulkan ketidakpastian di kalangan pelaku usaha.

“Bottleneck yang terjadi saat ini lebih karena adanya kekhawatiran, ketidakpastian, dan ketidaktahuan terhadap mekanisme kebijakan baru ekspor satu pintu,” ujarnya.

Petani berharap langkah cepat pemerintah mampu mengembalikan stabilitas harga sawit sehingga pendapatan mereka kembali normal dan keberlangsungan usaha perkebunan rakyat tetap terjaga. Di tengah tingginya biaya produksi, pemulihan harga TBS menjadi kebutuhan mendesak agar petani tidak terus menanggung kerugian yang semakin besar.(asy*)

Berita Terkait

Cegah Karhutla, Brimob Polda Jambi Turun Jaga Habitat Gajah Sumatera di Tebo
STIA Nusa Sakti Sungai Penuh Lepas Mahasiswanya Kukerta
Universitas Pertamina Buka Beasiswa KIP Kuliah 2026, Kuliah Gratis hingga Bantuan Biaya Hidup
Mitsubishi XForce Hybrid Tampil di GIIAS 2026, Harga Mulai Rp445 Juta
Misteri Kematian ASN BPN Nias Mulai Terkuak, Polisi Tetapkan Dua Perempuan sebagai Tersangka
BKSDA Lampung Lalai Usai Tapir Dilindungi Yang Viral Dibunuh dan Dimasak Warga
39 Ribu Siswa Dicoret dari Penerima MBG, BGN Prioritaskan Anggaran untuk Daerah 3T
Resmi Mengudara! Rute Jakarta–Muara Bungo Dibuka, Al Haris Optimistis Dongkrak Ekonomi Daerah
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 07:14 WIB

Cegah Karhutla, Brimob Polda Jambi Turun Jaga Habitat Gajah Sumatera di Tebo

Senin, 10 Agustus 2026 - 17:43 WIB

STIA Nusa Sakti Sungai Penuh Lepas Mahasiswanya Kukerta

Minggu, 2 Agustus 2026 - 22:14 WIB

Universitas Pertamina Buka Beasiswa KIP Kuliah 2026, Kuliah Gratis hingga Bantuan Biaya Hidup

Minggu, 2 Agustus 2026 - 21:35 WIB

Mitsubishi XForce Hybrid Tampil di GIIAS 2026, Harga Mulai Rp445 Juta

Rabu, 15 Juli 2026 - 17:28 WIB

Misteri Kematian ASN BPN Nias Mulai Terkuak, Polisi Tetapkan Dua Perempuan sebagai Tersangka

Berita Terbaru

Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi. Lahirlah atlet tembak nasional

Sport

TNI AU Gelar Kompotisi Tembak Di Ikuti 800 Peserta 

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:36 WIB