Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus USD 79 per Barel

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 13 Juli 2026 - 16:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Asif 31/Shutterstock

Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Asif 31/Shutterstock

JAKARTA, jentik.id – Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru ke Iran. Ketegangan kedua negara yang kembali memanas, ditambah ketidakpastian di Selat Hormuz, mendorong pasar energi bereaksi cepat.

Minyak mentah acuan global Brent naik hingga menembus USD 79 per barel setelah menguat lebih dari 5 persen sepanjang pekan lalu. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati USD 74 per barel.

Komando Pusat AS menyatakan pihaknya menyerang puluhan target di Iran pada Minggu (12/7/2026). Washington mengklaim operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Teheran mengganggu pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Sebagai respons, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Pemerintah Iran juga melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Yordania dan Qatar.

Di saat yang sama, Kuwait melaporkan sebuah anjungan pengeboran minyak lepas pantai miliknya mengalami kerusakan akibat serangan.

Ketegangan Dorong Harga Energi Naik

Konflik yang kembali memanas membuat premi risiko di pasar energi meningkat. Kondisi tersebut mengangkat harga minyak dan menghapus sebagian pelemahan yang terjadi pada Mei dan Juni saat muncul harapan perdamaian sementara.

Baca Juga :  Efek Konflik AS-Iran! Harga Minyak Tembus USD 100, Pasar Panik

Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya mengingatkan bahwa eskalasi konflik dapat menghambat upaya pemulihan cadangan minyak global. Lembaga itu juga menilai konflik berkepanjangan berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.

Analis senior energi MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan situasi memang semakin tegang, tetapi belum mengarah pada perang terbuka.

Menurutnya, harga minyak masih berpotensi naik selama serangan terus berlangsung dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum kembali normal.

Lalu Lintas Selat Hormuz Melambat

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir terhenti pada Senin (13/7/2026). Jalur tersebut selama ini mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi pasar energi.

Meski demikian, Joint Maritime Information Center menyebut kapal masih dapat melintas melalui jalur selatan Selat Hormuz yang dikoordinasikan oleh Oman.

Kekhawatiran terhadap pasokan energi juga mendorong kenaikan harga gas alam di Eropa. Kontrak berjangka gas sempat naik hingga 2,7 persen setelah menguat hampir 8 persen sepanjang pekan lalu.

Baca Juga :  Saat Dunia Krisis, Pakistan Selamat Berkat Ledakan Panel Surya

Peluang Diplomasi Semakin Kecil

Memanasnya konflik membuat peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi semakin mengecil. Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan era kesepakatan sepihak telah berakhir. Iran juga meminta Amerika Serikat memenuhi komitmennya terkait Selat Hormuz dan normalisasi ekspor minyak sebelum perundingan kembali dilanjutkan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir. Meski begitu, ia menegaskan Washington tetap membuka peluang untuk melanjutkan perundingan.

Saul Kavonic menilai serangan terhadap fasilitas pengeboran minyak di Kuwait menjadi serangan langsung pertama terhadap infrastruktur energi dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, jika konflik meluas hingga menyasar lebih banyak fasilitas energi, harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga USD 100 per barel.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara produsen minyak di kawasan Teluk Persia, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), sempat meningkatkan ekspor minyak setelah situasi relatif mereda. Namun, eskalasi terbaru kembali memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global. (nr*)

Berita Terkait

Sekolah Hancur akibat Konflik, 700.000 Anak di Gaza Terancam Kehilangan Masa Depan
Serangan Udara di Tambang Emas Sudan Tewaskan Lebih dari 200 Orang, Pemerintah Buka Penyelidikan
MUI Desak Konser Dibatalkan, Andrea Bocelli Akhirnya Angkat Bicara
Bukan Cuma Rudal Balistik! Intip Deretan Senjata Canggih Milik Houthi Yaman
Dua Penembakan Guncang Afrika Selatan, 27 Orang Tewas
AI Keliru Beri Intelijen, AS Nyaris Intersepsi Kapal China
Kabut Asap Makin Meluas, NASA Ungkap Citra Karhutla Indonesia-Malaysia
Banjir Bandang Nepal dan Tibet Tewaskan 1.130 Orang, Hampir 4.500 Masih Hilang
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Sekolah Hancur akibat Konflik, 700.000 Anak di Gaza Terancam Kehilangan Masa Depan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:59 WIB

Serangan Udara di Tambang Emas Sudan Tewaskan Lebih dari 200 Orang, Pemerintah Buka Penyelidikan

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:57 WIB

MUI Desak Konser Dibatalkan, Andrea Bocelli Akhirnya Angkat Bicara

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Bukan Cuma Rudal Balistik! Intip Deretan Senjata Canggih Milik Houthi Yaman

Minggu, 27 September 2026 - 21:41 WIB

Dua Penembakan Guncang Afrika Selatan, 27 Orang Tewas

Berita Terbaru