SUNGAI PENUH.Jentik.Id.Anak jantan dan anak batino Desa Koto Baru, menggelar tradisi Kenduri sko ” Membangkit Batang Terendam ” dan sebagai wujud rasa syukur sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga.
Tradisi yang dikenal dengan ungkapan petitih adat “tak lapuk koreno hujan, tak lekang kareno panas” ini kembali dilaksanakan sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya leluhur.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu (19/4/2026) dan dihadiri oleh Wali Kota Sungai Penuh Alfin, SH, unsur Forkopimda, para depati, serta undangan lainnya.
Kenduri Sko merupakan salah satu upacara adat penting bagi masyarakat suku Kerinci di Provinsi Jambi. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap lima tahun sekali dan juga dikenal sebagai Kenduri Sko.
Wali Kota Sungai Penuh, Alfin, menyampaikan bahwa Kenduri Sko memiliki dua makna utama. Pertama, sebagai momentum pengangkatan pemimpin adat atau tuo rajo (depati) yang akan memimpin masing-masing rumpun keluarga. Selain itu, dalam prosesi ini juga dilakukan penyerahan benda-benda pusaka adat yang diwariskan secara turun-temurun.
“Kedua, Kenduri Sko menjadi bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang telah diberikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, Kenduri Sko juga menampilkan berbagai kesenian tradisional seperti tari sekapur sirih dan pencak silat oleh para hulubalang dalam rangka penyambutan tamu.
Selain itu, terdapat arak-arakan yang melibatkan anak jantan dan anak batino sebagai bagian integral dari rangkaian acara.
“Ciri khas dan tak pernah tertinggal kerika akan kenduri sko, sebelum pelaksanaan, masyarakat terlebih dahulu membuat lemang secara bersama-sama berdasarkan keputusan para depati.
Makanan khas tersebut kemudian dibagikan kepada para tamu sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan, sejalan dengan petuah adat “kalau datang tampak muka, pulang tampak punggung.”
Alfin, menyebutnya Lebih dari sekadar seremoni, Kenduri Sko memiliki fungsi sosial yang kuat, yakni mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat nilai-nilai adat di tengah masyarakat.
Pemerintah Kota Sungai Penuh turut mengapresiasi pelaksanaan tradisi ini sebagai bentuk pelestarian budaya yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Tradisi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai adat tetap terjaga dan menjadi identitas masyarakat. Kenduri Sko merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat suku Kerinci,” kata Alfin.
Sementara itu, salah seorang perwakilan anak jantan menyampaikan bahwa bagi masyarakat, Kenduri Sko bukan sekadar acara adat, melainkan simbol kebersamaan dan rasa syukur yang terus dijaga dari generasi ke generasi.”(Red/*)









