Jakarta, jentik.id-Rolex tetap menjadi salah satu merek jam tangan mewah paling terkenal di dunia. Namun, konsumen tidak selalu bisa langsung membeli model yang mereka inginkan meski sudah menyiapkan dana.
Rolex memproduksi sekitar 1,15 juta jam per tahun. Meski jumlah produksi cukup besar, permintaan terhadap model tertentu terus meningkat. Kondisi itu membuat sejumlah konsumen harus menunggu lama melalui dealer resmi.
Tom Simpson, warga Australia yang tinggal di New York, mengalami situasi tersebut saat mencari Rolex untuk suaminya. Setelah mengunjungi beberapa butik, ia menemukan model yang disukai. Namun, salah satu dealer meminta riwayat pembelian sebelum memasukkannya ke daftar tunggu. Dealer lain juga tidak dapat memastikan kapan stok tersedia.
Simpson akhirnya memilih pasar sekunder. Setelah melakukan riset, ia mendapatkan Rolex Submariner bezel hijau “Starbucks” dalam kondisi seperti baru. Ia membayar sekitar 15 persen lebih mahal daripada harga dealer resmi. Namun, ia memilih cara tersebut demi mendapatkan kepastian waktu.
Popularitas Rolex tidak hanya berasal dari kualitas jam. Merek ini juga membangun citra sebagai simbol kesuksesan dan prestise selama lebih dari satu abad.
Permintaan mulai melampaui produksi sekitar 2017, menurut John Shmerler dari 1916 Company. Pandemi kemudian semakin meningkatkan minat terhadap barang mewah.
Data EveryWatch mencatat sekitar 2.500 Rolex bekas ditawarkan secara online setiap hari. Kondisi ini menunjukkan kuatnya permintaan terhadap Rolex, terutama model populer.
Karena itu, konsumen kini harus memilih antara menunggu melalui dealer resmi, mencari program certified pre-owned, atau membayar lebih di pasar sekunder. (nr*)









