Eric meminta publik menilai kinerja Kementerian ESDM berdasarkan data terukur, termasuk investasi, produksi minyak, penerimaan negara, dan hilirisasi.
“Menempatkan angka persepsi sebagai vonis mutlak atas kinerja kementerian strategis adalah lompatan logika yang keliru,” kata Eric kepada wartawan, Selasa (20/10/2026).
Anggota Komisi XI DPR RI itu menyoroti peningkatan ekspor produk turunan nikel sebagai salah satu indikator hilirisasi. Menurutnya, nilai ekspor naik dari sekitar 3,3 miliar dolar AS pada 2017–2018 menjadi 34 miliar dolar AS pada 2023. Nilainya kemudian melampaui 40 miliar dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan mencapai 45 miliar dolar AS pada 2026.
Eric juga menyebut investasi sektor ESDM sepanjang 2025 mencapai 31,7 miliar dolar AS. Investasi tersebut mencakup minyak dan gas bumi, mineral dan batu bara, ketenagalistrikan, serta energi baru terbarukan.
Pada sektor produksi, lifting minyak bumi mencapai rata-rata 605,3 ribu barel per hari pada 2025, termasuk natural gas liquids (NGL). Angka itu setara dengan 100,05 persen dari target APBN sebesar 605 ribu barel per hari.
Sementara itu, Kementerian ESDM mencatat penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp138,37 triliun atau 108,56 persen dari target Rp127,44 triliun.
Meski menyoroti capaian tersebut, Eric mengakui sektor ESDM masih menghadapi tantangan. Ia mendorong pemerintah memperkuat tata kelola lingkungan, mempercepat transisi energi terbarukan, dan membangun infrastruktur gas bumi.
Eric menegaskan evaluasi kebijakan perlu mempertimbangkan data terverifikasi, hasil kerja, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (nr*)









